| Mera Naam Joker: Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah

Sabtu, 08 Desember 2012

Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah



 
orang yang meniatkan kebaikan dan mengamalkan, Allah mencatat pahala 10-700 kali lipat banyaknya

MEI 2012, Saya mengungkapkan pada istri kalau saya membutuhkan sebuah lap top untuk kerja. Bagi saya, seorang koresponden sebuah media, laptop bukan untuk gaya hidup, namun sebuah kebutuhan tidak terpisahkan.
Sebuah brosur penawaran cicilan computerportable ini sudah ada di tangan. Namun, ada beberapa kendala.
Pertama, tahun ini adalah tahun pelunasan hutang bagi keluarga saya. Baik hutang investasi dari bisnis-bisnis yang karam di tengah jalan ataupun hutang-hutang pribadi lainnya.  Kedua, hal juga yang tidak kalah penting, yakni soal riba.Kegusaran hati untuk melepaskan diri dari riba telah menjadi bagian cita-citanya istri saya, wanita paling aku sayangi yang paling tidak setuju aku memutuskan mengambil computer dengan cara mencicil seperti tawaran dalam brosur. Akhirnya, memiliki sebuah laptop sendiri, menjadi bukan sesuatu hal urgent.
Akhirnya, aku harus bersabar lagi dan tetap pada kebiasaan lama, menulis berita liputan menunggu si kecil tidur pulas setiap malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Biasanya, setelah jam itu lewat, aku segera lari menuju warnet.
Kesabaran adalah kunci, ketekunan adalah ikhtiar dan doa adalah pondasi dasar yang menguatkan. Tiba-tiba seorang sahabat meminjamkan sebuah laptop Toshiba seri lama.Akhirnya alat ini cukup membantuku untuk menulis berita.

Hanya saja, laptop merah di pamflet promosi itu terus menghantui saya. Aku sangat ingin sekali memilikinya. Maklum, aku memang pengagum warna merah.
Akhir Juni 2012, laptop pinjaman sahabat saya rusak. Layar monitor LCD gelap tak terlihat jelas tampilan windowsnya. Namanya juga sudah udzur, karena laptop ini memang sudah lama. Sahabat saya, Abu Sofian membelinya ketika saat itu model ini baru keluar sekitar 3-4 tahun lalu.Akhirnya, saya harus kembali ke warnet lagi.
Bulan Juli 2012 menjadi kisahnya tersendiri. Tak disangka, beritaku ibarat air, tiba-tiba telah mencapai angka 84 berita. Subhanallah. Alku sendiri kaget hingga bisa sebanyak itu.Memang, setiap bangun tidur dan setelah selesai semua urusan, yang ada dalam otakku adalah apa yang harus aku tulis hari ini untuk ‘melayani’ umat dengan informasi terakurat dan terbaru.
Iseng-iseng, aku coba lagi laptop sahabatku yang rusak windows nya itu dan menyambungnya pada sebuah kabel di tabung monitor PC yang tidak terpakai. Ajaib, monitor itu ‘akur’ alias mau bekerjasama. Betapa gembiranya, monitor itu akhirnya nyala. Jadilah aku bisa kembali bekerja tanpa perlu ke warnet. Aku bisa memulai awal Ramadhan ini dengan begitu padat. Keluar-masuk masjid dan memantau kegiatan ibadah umat Islam di bulan penuh berkah ini.

Sedekah dan Dakwah

Suatu hari aku diminta seorang sahabat menjadi pembicara di sebuah kajian di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Pekan itu, ada dua undangan untukku menjadi pembicara. Padahal, biasanya, aku adalah orang yang menutup diri dari aktivitas menjadi pembicara. Aku bahkan banyak menolaknya. Namun untuk sahabat satu ini, rupanya aku tidak bisa menolak permintaannya.
Akhirnya, satu acara aku alihkan pada seorang teman, dia lebih senior dariku. Menariknya dalam akhir acara temanku yang lebih senior itu tiba-tiba disodori amplop oleh panitia. Di depan mata dan kepala saya, ia menolaknya.
“Tidak usah ah, kasih yang lain aja,” ujarnya. Meski terus dipaksa, dia tetap menolak.
Malamnya saya mempersiapkan materi undangan di Kalibata. Sebab, besok pagi, aku harus menjadi pengisi materi.
Malam itu, otakku seolah terpecah. Mulai dari tanggung jawab sebagai kontributor, tugas-tugas lain, hingga kurang uang untuk membayar kontrakan rumah yang sudah masuk deadline.
Paginya, usai memberikan materi, seorang panitia mendekati saya dan menyodorkan amplop.
Pada menit pertama amplop disodorkan, otak dan batin saya bertempur. Aku teringat sahabat saya yang menolak amplop kemarin. Selain itu, saya tahu komunitas kajian ini juga butuh dana dakwah untuk kegiatannya.
Di sisi lain, otak saya bicara bahwa enam hari lagi saya harus membayar kontrakan rumah. Setumpuk bisikan pro dan kontra datang di hati dan otak saya saat itu.
Bismillahirahmanirrahim, sayapun memutuskan untuk menolak amplop itu dengan berat hati.
Di atas motor, istri saya bertanya,“Tadi dikasih amplop, tapi kenapa ditolak?
“Tidak apa-apa, kita sedekahin aja ya, InsyaAllah nanti Allah akan mengganti yang lebih baik,” begitu jawabku.
“Iya,” jawab istriku sambil menggendong si Kecil.
Tak Ada Hidup yang Susah
Ramadhan ini saya hanya fokus pada perbaikan diri, mengurus keluarga dan menuntaskan tugas-tugas kerja. Saya bahkan mulai lupa laptop merah, hingga suatu hari, seorang sahabat saya memotretku saat bekerja yang baginya mungkin sebuah kelucuan. Di mana keyboard ku menggunakan laptop rusak, tapi layarnya menggunakan sebuah PC.
Rupanya, usai memotret itu, ia memuatnya di sebuah laman Facebook (FB).
Beberapa orang memberi apresiasi. Ada yang memberi komentar atau memberi tanda jempol. Namun giliran komentar berikutnya datang dari seorang sahabat, seorang pengusaha muda dan aktivis Muslim.
“Berapa nomor rekeningnya,” begitu komentarnya sangat pendek.
Rupanya, pria yang tinggal Yogyakarta itu ternyata tidak main-main dengan omongannya. Sore hari, saya dapati ada uang transfer di rekeningku yang cukup banyak.
Kaget juga, uang siapa ini? siapa yang transfer? untuk apa? Sampai di situ aku masih tidak terlalu serius menanggapi komentar sang pengusaha muda ini. Setelah aku kroscek, rupanya benar. Dialah yang transfer uang itu. Ia hanya berpesan agar uang itu dibelikan laptop.
Sambil pulang, aku langsung mencairkan semua uang itu melalui ATM. Searah perjalan, ada sebuah toko khusus menjual laptop dan sparepart komputer. Saya mampir dan di ujung toko itu persis ada laptop berwarna merah yang pernah aku impikan. Persis, seperti laptop di pamflet promosi cicilan sebulan lalu. Tanpa pikir panjang, saya tanya ke kasir.
“Berapa harga barang itu mbak?” tanyaku.
Betapa kagetnya, ternyata harnya sama dengan harga di brosur yang pernah aku pegang bulan lalu.
Tanpa panjang pikir, aku memutuskan membeli laptop itu. Dengan sedikit tambahan dari tabungan saya. Dan aku akhirnya membawa pulang laptop baru.
Rupanya, di rumah, istriku lebih kaget lagi.
“Ini apa? Kamu dapat uang darimana lagi?” tanyanya dengan nada kritis.
Setelah aku jelaskan, akhirnya mata wanita terbaik dalam hidupku inipun seketika basah. Hangat dia memeluk saya. Saya kagum istriku dia menjaga saya untuk menjauhi budaya-budaya riba. Hingga aku teringat nasehat seorang ulama di sebuah gerakan Islam yang telah tiada, “Kejarlah Akhiratmu, Niscara dunia akan mengejarmu.”
Sampai di sini sesungguhnya aku tidak tahu semua kejadian ini. Aku hanya teringat amplop yang saya tolak saat mengisi kajian itu. Saya merasakan kekuatan sedekah untuk kesekian kali. Selama ini aku tidak minta banyak hal dari Allah, apalagi mengecilkan pemilik Arsy ini. Aku juga tidak pernah berdoa kepadaNya hanya untuk meminta laptop. Namun aku selalu berdoa padaNya agar IA memaafkan dosa-dosaku, Kalaupun ada doa menyangkut kebutuhanku, biasanya aku selalu berdoa, “Ya Allah cukupilah kebutuhanku.”
Subhanallah, pada kondisi-kondisi yang tepat, justru Allah tak pernah menelantarkan saya dari kebutuhan hidup ini. Semuanya cukup.
Ya Rabb, Tak ada pelarian terbaik selain menangis dihadapanMu. Tak ada kekuatan terbaik selain berasal dariMu. Tak ada penghiburan terbaik selalu menikmati sajian ayat-ayatMu.
Ya Rabb, ajarkan dan kuatkanlah kami. Agar kami tidak termasuk orang-orang yang suka mendustakan nikmatMu.
Hikmah
Pelajaran dari kisah ini adalah, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah “membeli” dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. (At Taubáh: 111)
Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.Kata Nabi,orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Sedang orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.
“Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat.” (Q.S. Al-An’am : 160).*/seperti diceritakan pada Cholis.
Comments
0 Comments