| Mera Naam Joker: motivasi islam
Tampilkan postingan dengan label motivasi islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

KISAH SESEORANG YANG MENGOLOK- NGOLOK MALAIKAT MAUT



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kisah ini diceritakan oleh seorang ustadzah : ..

Hari itu aku pergi ke sebuah klinik. Setelah mengambil nomor antrian, aku pun duduk menunggu giliranku. Sekonyong-konyong masuklah seorang gadis cantik. Sayang sekali, dia tidak mengenakan jilbab. Sebaliknya, berdandan menor. Gadis itu pun mengambil nomor, lalu duduk tidak jauh dariku.

Entah mengapa, ada sebuah dorongan dalam diriku untuk menyampaikan sekedar sebuah nasehat kepadanya. Akhirnya setelah cukup lama diliputi kebimbangan, aku pun menasehatinya dengan selembut mungkin. Aku jelaskan kepadanya perintah Allah yang telah dilanggarnya. Namun reaksinya benar-benar tak kuduga. la membentakku dengan suara keras.


Ia marah karena -menurutnya- aku terlalu ikut campur dengan apa yang ia kenakan.

“Aku bebas melakukan dan mengenakan apa yang aku mau!!” ujarnya.

Akhirnya, aku pun kembali ke tempat dudukku. Namun dorongan dan bisikan itu kembali mengusik hatiku: “Mengapa aku tidak menyampaikan soal kematian -sang penghancur segala kenikmatan- kepadanya?”

Aku pun memberanikan diri kembali mendekatinya. Dengan sesungging senyum aku memintanya untuk menjawab satu pertanyaan saja dariku.

“Silahkan,” ujarnya.

“Jika saja saat ini Sang Malaikat pencabut nyawa mendatangimu, apa yang akan engkau katakan padanya?” tanyaku.

Ia pun menjawab -duhai, andai saja ia tidak menjawabnya- dengan penuh cemooh: “Aku akan mengatakan kepadanya: ‘Hush .. hush!”

Jawaban itu seperti petir menyambarku. Namun beruntunglah nomor antrianku muncul di layar. Dan aku pun masuk menemui sang dokter dengan hati yang dipenuhi keterkejutan. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa sedemikian sombong dengan mengucapkan kata-kata seperti itu?

Setelah menjalani semua pemeriksaan, aku pun keluar dari ruang dokter. Di luar sang, aku dikejutkan dengan kerumunan pasien dan perawat yang silih berganti mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un‘.

Saat aku mendekat, betapa terkejutnya aku. Apa yang kulihat? Yang kulihat adalah gadis itu. Ia terkulai dan tergeletak di situ dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Rupanya hari itu adalah hari terakhirnya.

Dan semua bisikan-bisikan yang memenuhi hatiku tadi tidak lain adalah untuk memberinya kesempatan. Yah, Allah masih memberinya kesempatan untuk -setidaknya- meniatkan taubatnya. Tapi sayang sekali, ia tidak menggunakan kesempatan terakhir itu. Malaikat maut datang, dan ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Kisah ini adalah hadiah untuk mereka yang tertipu dengan angan-angan dan obsesi hidup lebih lama di dunia!!

Wallahu a'lam bish-shawab ...

Pesan dari Ruang Gawat Darurat


Kemarilah ... Jangan tanya `apa kabar` kepadaku hari ini, hee... karena kau tahu sendiri semua kabel dan obat- obat ini membuatku pusing.  Kalau kau tanya apa yang paling aku butuhkan saat ini... pengampunan. Pengampuan dari Allah dan orang- orang yang aku menyayangi aku, tapi yang selama ini tidak banyak aku bahagiakan.  Ternyata aku baru tahu, setiap nafas begitu berharga. Hanya orang yang bodoh yang tidak menghargai semua itu. Lihatlah aku. Maut sudah didepan mataku, apalagi yang bisa kuperbuat.   Jika saja sekarang aku masih bisa berlari dan berjalan, hanya satu keinginanku untuk mengisi setiap nafas dan langkahku dengan zikir dan doa serta prasangka yang baik kepada sang maha kuasa.  Uang yang selama ini aku kumpulkan siang dan malam, ternyata tidak menemaniku kecuali hanya sebentar. Hanya kasih sayang keluarga dan pengasihan sang maha kuasa yang membuatku masih hidup sampai sekarang. Ah dunia benar- benar menipuku dan melalaikanku. Kalau sudah begini ini, aku merasa sangat bodoh dan banyak memaki diri aku sendiri. Lihatlah ternyata aku bukan pemimpin yang baik atas diri aku sendiri.  Apa aku akan sanggup menjawab saat nanti aku ditanya malaikat didalam kubur? apa yang harus aku lakukan?  ..... (Menangis) ..................  Aku pasrah. Paling tidak sakitnya jarum- jarum suntik ini dan kabel- kabel mesin- mesin ini mengajarkan aku rasa sakit untuk kemudian memohon ampun kepada sang maha kuasa. Aku pasrah entah dosaku sudah di delete atau belum, tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah percaya bahwa Allah tidak akan menyia- nyiakan kepercayaan hambanya kan?  Aku juga lupa satu hal selama aku hidup, yaitu mengasihi makhluk- makhluknya. Aku lupa bahwa itu lebih memungkinkan aku untuk lebih dikasihi Allah Juga. Paling tidak, Mungkin Allah akan memberikan diskon atas rasa sakit saat nanti nyawaku dicabut. Apa iya ya bakalan sakit?  Tapi paling tidak aku masih beruntung.... anakku pintar sekali mengaji. Aku pernah mendengar kalau orang tua sudah meninggal, tapi doa sang anak sholeh tidak akan pernah putus darinya.   Ya Allah, kau tahu betapa aku kurang perduli selama ini dengannya, tapi ternyata dia adalah satu- satunya harta yang aku punya bahkan setelah aku meninggal. Betapa beruntungnya aku memiliki istri yang sholihah yang sudah mendidik anakku sampai seperti itu.   Ya allah, kalau melihat semua kebelakang, aku malu, sungguh malu. Ayah macam apa aku ini. Jangankan jadi imam sholat mereka, mengajari satu doapun aku tidak bisa.  Kau lebih beruntung dari pada aku, aku sudah hampir sampai dititik nadir. sedangkan kau paling tidak masih mempunyai jatah nafas yang lebih panjang.   Paling tidak lebih panjang kesempatanmu untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang kau buat untuk orang- orang yang menyayangmu.   Kesempatanmu lebih banyak untuk mengangkat tangan dan belajar bersyukur atas hal- hal lain yang selama ini jarang mampir dipikiranmu. Jangan sia- siakan itu. Jangan kau pernah mengulangi kesalahanku.  Hidupmu kita tak akan cukup panjang untuk berbuat kesalahan itu sendirian dan kemudian menyesali dan memperbaikinya. Cukup belajarlah dari kesalahanku, dan kau insyaallah akan lebih baik. Tolong sampaikan betapa aku sangat menyayangi anak dan istriku..............sampai jumpa didunia yang lain....  (Syahidah) 

Kejamnya Waktu Subuh



Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Saya yakin di antara kita sudah mengetahui keistimewaan waktu Subuh. Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dengan kacamata yang lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaatkannya.

Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu Subuh)”. Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa dibalik waktu Subuh? Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh? Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?

Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…

Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?

Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).

Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati yang hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

“…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim).

Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis! Shalat selama sepuluh jam…, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin. Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?

“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam. “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).

Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?

Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid.

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya

Sumber : priendah.wordpress.com

Kisah Syaikh al-Utsaimin dan Polisimot


Berikut adalah sekelumit kisah dari ulama kita, yaitu asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah saat berurusan dengan polisi lalu lintas...

SELAMAT MENYIMAK...
SEMOGA BERMANFAAT....

Diceritakan dalam Muqaddimah Syarah Shahih al-Bukhari bahwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin suatu ketika menaiki mobil yang dibawa temannya.
Berangkat dari Unaizah menuju Buraidah untuk suatu kepeluan penting dengan sebuah lembaga sosial. Si sopir yang juga pemilik mobil membawa mobil dengan kecepatan tinggi sehingga diberhentikan oleh polisi.



Melihat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ada di dalam mobil, polantas tersebut mengizinkan mobil yang ditumpangi Syaikh untuk terus saja. Lantas Syaikh menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, maka ia (sang sopir) memberitahukannya.

Syaikhpun serta merta berkata,”balik lagi ke tempat tadi...!“

Lalu beliau bertanya kepada polisi tadi.

Syaikh: ” Mengapa anda menghentikan laju mobil kami...?“

Polisi: ”Karena laju mobil melebihi batas kecepatan...“

Syaikh: ”Lantas mengapa Anda tidak menilang kami...?“

Polisi: ”Barangkali kali Anda berdua sedang terburu-buru karena masalah penting, ya Syaikh...!!”

Syaikh menolak dan bertanya berapa ongkos tilang karena melanggar peraturan, ternyata biayanya 300 real.

Syaikh: ”Ini 150 real dari saya, dan ambilah 150 real-nya lagi dari teman saya ini..!
Karena ia telah melanggar peraturan sedangkan saya tidak menasehatinya”

Demikianlah salah satu kisah dari sifat wara’nya Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dan contoh nyata para ulama mengamalkan ilmu yang mereka miliki.

Siapakah Anda



Siapakah orang y
ang sibuk? Yaitu orang yg suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yg manis senyumannya? Yaitu orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.


Siapakah orang yang kaya? Yaitu orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin? Yaitu orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi? Yaitu orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik? yaitu orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas? Yaitu orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit? Yaitu orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal? Yaitu orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan 'STATUS' ini begitu saja, jangankan men'SHARE' kepada org lain, me'LIKE'nya saja tidak.

Senin, 10 Desember 2012

Nasehat Kehidupan – Saudagar Kaya dan 4 Istrinya


Suatu ketika, ada seorang saudagar kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit. Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”
Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak, “jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.”
Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”
Renungan :
Sahabat Tercinta, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.
Mumpung masih hidup …
Mumpung masih sehat …
Mumpung masih longgar …
Mumpung masih muda …

Sebuah Hikmah: 5 Hal yang Patut Dipelajari dari Semut


5 hal yang patut dipelajari dari semut
1. Semut tdk pernah putus asa.
Coba bentangkan tangan untuk menutup jalan yang dilalui semut. Semut tak akan putus asa, apalagi berhenti. Tapi terus mencari rute lain. Sudahkah kita memaksimalkan kerja dan tak pernah berhenti dalam menjalani hidup ini?
2. Semut rajinnya luar biasa.
Pernahkah melihat semut tiduran dan santai-santai?
semut selalu aktif, bekerja menangkat makanan. bekerja merupakan bagian penting dlm hidup semut. semut tdk pernah meras bosan dgn apa yg dia lakukan setiap hari. sebab semut mempunyai tujuan dan arah hidup. Apakah anda sudah mempunyai arah dan tujuan dlm hidup anda sekarang /
3. semut itu kuat.
semut mampu mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. semut tak mengeluh, apalagi menyerah. mampukah kita menghadapi masalah hidup dan tetap optimis seperti semut ?
4. semut berjiwa sosial.
apa yang dilakukan semut ketika makanan yg hendak diangkut terlalu berat? semut tdk mempunyai sifat egois., mereka akan tolong menolong dan mengangkatnya bersama2. apakah anda egois? atau berjiwa sosial seperti semut?
5. semut cepat melihat peluang
semut cepat hadir ketika dia mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan. semuat tak akan menyiakannya, sebab semuat tahu peluang hanya datang sekali saja. apakah anda termasuk orang yang dapat menggunakan peluang dgn baik ?
Semoga kita bisa mencontoh sifat semut dan mengembangkannya menjadi kebiasaan yang positif untuk hidup yang lebih baik.

Sabtu, 08 Desember 2012

Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah



 
orang yang meniatkan kebaikan dan mengamalkan, Allah mencatat pahala 10-700 kali lipat banyaknya

MEI 2012, Saya mengungkapkan pada istri kalau saya membutuhkan sebuah lap top untuk kerja. Bagi saya, seorang koresponden sebuah media, laptop bukan untuk gaya hidup, namun sebuah kebutuhan tidak terpisahkan.
Sebuah brosur penawaran cicilan computerportable ini sudah ada di tangan. Namun, ada beberapa kendala.
Pertama, tahun ini adalah tahun pelunasan hutang bagi keluarga saya. Baik hutang investasi dari bisnis-bisnis yang karam di tengah jalan ataupun hutang-hutang pribadi lainnya.  Kedua, hal juga yang tidak kalah penting, yakni soal riba.Kegusaran hati untuk melepaskan diri dari riba telah menjadi bagian cita-citanya istri saya, wanita paling aku sayangi yang paling tidak setuju aku memutuskan mengambil computer dengan cara mencicil seperti tawaran dalam brosur. Akhirnya, memiliki sebuah laptop sendiri, menjadi bukan sesuatu hal urgent.
Akhirnya, aku harus bersabar lagi dan tetap pada kebiasaan lama, menulis berita liputan menunggu si kecil tidur pulas setiap malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Biasanya, setelah jam itu lewat, aku segera lari menuju warnet.
Kesabaran adalah kunci, ketekunan adalah ikhtiar dan doa adalah pondasi dasar yang menguatkan. Tiba-tiba seorang sahabat meminjamkan sebuah laptop Toshiba seri lama.Akhirnya alat ini cukup membantuku untuk menulis berita.

Hanya saja, laptop merah di pamflet promosi itu terus menghantui saya. Aku sangat ingin sekali memilikinya. Maklum, aku memang pengagum warna merah.
Akhir Juni 2012, laptop pinjaman sahabat saya rusak. Layar monitor LCD gelap tak terlihat jelas tampilan windowsnya. Namanya juga sudah udzur, karena laptop ini memang sudah lama. Sahabat saya, Abu Sofian membelinya ketika saat itu model ini baru keluar sekitar 3-4 tahun lalu.Akhirnya, saya harus kembali ke warnet lagi.
Bulan Juli 2012 menjadi kisahnya tersendiri. Tak disangka, beritaku ibarat air, tiba-tiba telah mencapai angka 84 berita. Subhanallah. Alku sendiri kaget hingga bisa sebanyak itu.Memang, setiap bangun tidur dan setelah selesai semua urusan, yang ada dalam otakku adalah apa yang harus aku tulis hari ini untuk ‘melayani’ umat dengan informasi terakurat dan terbaru.
Iseng-iseng, aku coba lagi laptop sahabatku yang rusak windows nya itu dan menyambungnya pada sebuah kabel di tabung monitor PC yang tidak terpakai. Ajaib, monitor itu ‘akur’ alias mau bekerjasama. Betapa gembiranya, monitor itu akhirnya nyala. Jadilah aku bisa kembali bekerja tanpa perlu ke warnet. Aku bisa memulai awal Ramadhan ini dengan begitu padat. Keluar-masuk masjid dan memantau kegiatan ibadah umat Islam di bulan penuh berkah ini.

Sedekah dan Dakwah

Suatu hari aku diminta seorang sahabat menjadi pembicara di sebuah kajian di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Pekan itu, ada dua undangan untukku menjadi pembicara. Padahal, biasanya, aku adalah orang yang menutup diri dari aktivitas menjadi pembicara. Aku bahkan banyak menolaknya. Namun untuk sahabat satu ini, rupanya aku tidak bisa menolak permintaannya.
Akhirnya, satu acara aku alihkan pada seorang teman, dia lebih senior dariku. Menariknya dalam akhir acara temanku yang lebih senior itu tiba-tiba disodori amplop oleh panitia. Di depan mata dan kepala saya, ia menolaknya.
“Tidak usah ah, kasih yang lain aja,” ujarnya. Meski terus dipaksa, dia tetap menolak.
Malamnya saya mempersiapkan materi undangan di Kalibata. Sebab, besok pagi, aku harus menjadi pengisi materi.
Malam itu, otakku seolah terpecah. Mulai dari tanggung jawab sebagai kontributor, tugas-tugas lain, hingga kurang uang untuk membayar kontrakan rumah yang sudah masuk deadline.
Paginya, usai memberikan materi, seorang panitia mendekati saya dan menyodorkan amplop.
Pada menit pertama amplop disodorkan, otak dan batin saya bertempur. Aku teringat sahabat saya yang menolak amplop kemarin. Selain itu, saya tahu komunitas kajian ini juga butuh dana dakwah untuk kegiatannya.
Di sisi lain, otak saya bicara bahwa enam hari lagi saya harus membayar kontrakan rumah. Setumpuk bisikan pro dan kontra datang di hati dan otak saya saat itu.
Bismillahirahmanirrahim, sayapun memutuskan untuk menolak amplop itu dengan berat hati.
Di atas motor, istri saya bertanya,“Tadi dikasih amplop, tapi kenapa ditolak?
“Tidak apa-apa, kita sedekahin aja ya, InsyaAllah nanti Allah akan mengganti yang lebih baik,” begitu jawabku.
“Iya,” jawab istriku sambil menggendong si Kecil.
Tak Ada Hidup yang Susah
Ramadhan ini saya hanya fokus pada perbaikan diri, mengurus keluarga dan menuntaskan tugas-tugas kerja. Saya bahkan mulai lupa laptop merah, hingga suatu hari, seorang sahabat saya memotretku saat bekerja yang baginya mungkin sebuah kelucuan. Di mana keyboard ku menggunakan laptop rusak, tapi layarnya menggunakan sebuah PC.
Rupanya, usai memotret itu, ia memuatnya di sebuah laman Facebook (FB).
Beberapa orang memberi apresiasi. Ada yang memberi komentar atau memberi tanda jempol. Namun giliran komentar berikutnya datang dari seorang sahabat, seorang pengusaha muda dan aktivis Muslim.
“Berapa nomor rekeningnya,” begitu komentarnya sangat pendek.
Rupanya, pria yang tinggal Yogyakarta itu ternyata tidak main-main dengan omongannya. Sore hari, saya dapati ada uang transfer di rekeningku yang cukup banyak.
Kaget juga, uang siapa ini? siapa yang transfer? untuk apa? Sampai di situ aku masih tidak terlalu serius menanggapi komentar sang pengusaha muda ini. Setelah aku kroscek, rupanya benar. Dialah yang transfer uang itu. Ia hanya berpesan agar uang itu dibelikan laptop.
Sambil pulang, aku langsung mencairkan semua uang itu melalui ATM. Searah perjalan, ada sebuah toko khusus menjual laptop dan sparepart komputer. Saya mampir dan di ujung toko itu persis ada laptop berwarna merah yang pernah aku impikan. Persis, seperti laptop di pamflet promosi cicilan sebulan lalu. Tanpa pikir panjang, saya tanya ke kasir.
“Berapa harga barang itu mbak?” tanyaku.
Betapa kagetnya, ternyata harnya sama dengan harga di brosur yang pernah aku pegang bulan lalu.
Tanpa panjang pikir, aku memutuskan membeli laptop itu. Dengan sedikit tambahan dari tabungan saya. Dan aku akhirnya membawa pulang laptop baru.
Rupanya, di rumah, istriku lebih kaget lagi.
“Ini apa? Kamu dapat uang darimana lagi?” tanyanya dengan nada kritis.
Setelah aku jelaskan, akhirnya mata wanita terbaik dalam hidupku inipun seketika basah. Hangat dia memeluk saya. Saya kagum istriku dia menjaga saya untuk menjauhi budaya-budaya riba. Hingga aku teringat nasehat seorang ulama di sebuah gerakan Islam yang telah tiada, “Kejarlah Akhiratmu, Niscara dunia akan mengejarmu.”
Sampai di sini sesungguhnya aku tidak tahu semua kejadian ini. Aku hanya teringat amplop yang saya tolak saat mengisi kajian itu. Saya merasakan kekuatan sedekah untuk kesekian kali. Selama ini aku tidak minta banyak hal dari Allah, apalagi mengecilkan pemilik Arsy ini. Aku juga tidak pernah berdoa kepadaNya hanya untuk meminta laptop. Namun aku selalu berdoa padaNya agar IA memaafkan dosa-dosaku, Kalaupun ada doa menyangkut kebutuhanku, biasanya aku selalu berdoa, “Ya Allah cukupilah kebutuhanku.”
Subhanallah, pada kondisi-kondisi yang tepat, justru Allah tak pernah menelantarkan saya dari kebutuhan hidup ini. Semuanya cukup.
Ya Rabb, Tak ada pelarian terbaik selain menangis dihadapanMu. Tak ada kekuatan terbaik selain berasal dariMu. Tak ada penghiburan terbaik selalu menikmati sajian ayat-ayatMu.
Ya Rabb, ajarkan dan kuatkanlah kami. Agar kami tidak termasuk orang-orang yang suka mendustakan nikmatMu.
Hikmah
Pelajaran dari kisah ini adalah, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah “membeli” dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. (At Taubáh: 111)
Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.Kata Nabi,orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Sedang orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.
“Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat.” (Q.S. Al-An’am : 160).*/seperti diceritakan pada Cholis.

Akhirnya ALLAH SWT Menggirimkan Ku Suami Terbaik


 
“Ya Allah cukupkan cobaan ini. Dan gantilah kehidupanku dengan lebih baik"

SAYA tak ingat betul, sejak kapan saya begitu perhatian dengannya, seorang pria lembut, mengagumkan dan telah membuat hatiku jatuh cinta. Yang masih saya ingat, ia adalah kakak kelasku ketika masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur.

Yang jelas, tak seperti layaknya Anak Baru Gede(ABG), perjalanan perkenalan kami tak berlama-lama. Kami segera menikah usai lulus sarjana. Selain itu, perlu dimaklumi, saya setiap hari memamai jilbab, jadi alangkah tak pantasnya jika menjalin hubungan dekat dalam waktu lama tanpa ada ikatan yang halal.

Alkisah, perjalanan kisah asmara kami berjalan baik hingga ke pelaminan. Sungguh wanita mana yang tidak bahagia menerima saat-saat seperti ini? Menikah dengan seorang pria idaman, pasti adalah mimpi tiap wanita yang sehat akalnya.

Sayang, harapan tak semulus dengan kenyataan. Dalam perjalanan biduk rumah tangga, tabiat buruk suamiku mulai muncul satu-persatu. Tabiat paling utama adalah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Entah, kapan taibat buruk itu bermula. Yang jelas, usai pernikahan beberapa bulan, ia tiba-tiba sering melayangkan bogem nya ke bagian-bagian tubuhku jika dia sedang marah atau merasa kurang sesuai dengan keinginannya.

“Kamu istri macam apa? plok!” demikian sambil kepalan tangannya itu mendarat di pelipis saya.

Duh, rasahnya pedih dan sakit. Tak hanya sakit fisik, tapi sakit dari relung hatiku paling jauh. Ah, tapi mungkin itu memang karena kesalahanku sebagai seorang istri yang teledor, begitu perasaan hati agar bisa ridho menerima perlakukan ini.

Hari demi hari, mulai kuperbaiki perjalanan rumah tanggaku, semata agar kehidupan lebih baik dan aku bisa menjadi istri yang sholehah. Itu saja.

“Pyarr!” Tiba-tiba piring, gelas dan barang-barang melayang. Tak hanya itu, kali ini bukan lagi bogem yang menghampiriku.

Pria yang pernah kukagumi dan aku kenal sendiri di kampus, bukan melalui orang lain, kali ini menjambak rambutku dan menyeret ke kamar mandi. Di sana ia mendorong kepalaku ke dalam baik air. Setelah lama, ia mengangkat kepalaku dan menenggelamkan lagi.

Rasanya bingung, sedih, sakit, kecewa, semuanya campur jadi satu. “Ya Allah ya Rabbi, syetan apa yang membuat suamiku seganas ini pada istrinya?”

Begitulah kehidupan rumah tanggaku. Di depan orang kami nampak baik, di dalam rumah, ia seolah memperlakukan aku layaknya tahanan Guantanamo Bay, penjara kejam yang dibangun Amerika Serikat (AS) untuk memperlakukan saudara-saudara Muslim pasca 11 September.

Kekerasan dan siksaan (sudah tak bisa dihitung dan tak bisa saya jelaskan di sini) berjalan hingga kelahiran anak kami yang pertama. Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan kasarnya, singkat cerita, pasca usia anak kami berjalan beberapa tahun, hubungan kami tak bisa dipertahankan dan berakhi dengan perceraian. Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkanku dari “neraka kecil” itu.

Barakah Pesantren

Sembari masih membawa status “janda”, saya mencoba melamar berbagai tempat. Semua telah kucoba dan selalu hasilnya nihil. Maklum, bidang yang kugeluti termasuk kurang umum, yakni bidang seni.

Suatu hari, aku mendapatkan informasi sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan sebuah pesantren di Surabaya. Dengan bismillah, kucoba melamar sebagai tenaga pendidik bidang kesenian. “Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih,” demikian kata pepatah. Rupanya, lamaranku di terima.

Betapa senangnya. Pertama, aku gembira karena bisa mengamalkan ilmu, kedua, gembira bekerja di bawah lembaga yang memiliki akar kuat dalam urusan agama. Maklum, meski menutup aurat, aku wanita biasa-biasa saja, seorang dari kampung yang semenjak kecil kurang banyak dididik ilmu agama.

Benar saja, beberapa tahun bergabung dengan lembaga ini, tiap hari dan tiap saat, rasanya ilmu agamaku bertambah. Subhanallah, Maha Suci Engkau ya Allah!

Sementara aku sibuk menjadi pendidik di Surabaya, anakku kutitipkan pada neneknya di kampung. Tiap saat, usai gajian, aku pulang mengunjungi anak dan mengirim keperluan. Begitu perjalannku beberapa tahun.Dan tak terasa, sudah sekian lama kehidupan ini kujalani. Kira-kira hingga anakku masuk SMP.

Lama menjalani hidup sebagai janda rupanya tak mengganggu pikiranku. Sebab, setiap kali berfikir soal jodoh atau pria, selalu teringat dalam pikiran kekejaman mantan suamiku, yang tak lain adalah pria pilihanku sendiri. Karena itu, tiap terpikir soal pria, secepat itu pula pikiran itu lewat begitu saja. Hmmm rasanya, berat untuk menikah lagi. Bagaimana jika yang kuhadapi pria yang sama seperti kemarin? Di depan ia lembut, di belakang dia seperti algojo. Duh, ngeri!

Meski demikian, setiap malam aku selalu berdoa di hadapan Allah agar diberi jalan terbaik dalam hidup dan tak ingin diberi cobaan lagi seperti yang telah lewat.

“Ya Allah cukupkan cobaan ini. Berilah kesabaran, dan gantilah kehidupanku dengan lebih baik di masa depan.”

Suatu hari, di bulan Februari, aku pulang ke kampung menaiki bus. Perjalanan kurang lebih membutuhkan waktu 5 jam. Setengah jam bus berjalan, tiba-tiba seseorang duduk di bangku sebelahku yang awalnya kosong.

Seperti layaknya orang dalam perjalanan, ia bertanya ini-itu. Karena kurang tertarik, saya menjawabnya secara asal dan apa adanya. Namun saya sempat melihat raut berubah manakala aku menjawab bekerja sebagai seorang pendidik di lembaga pesantren. Kamipun berpisah tanpa saling mengenal.

Entah, apa yang ada dalam pikiran pria di bus itu. Rupanya, jawaban terkhirku itu membuat ia rela mencari alamat dan tempat kos ku. Sebagai wanita baik-baik, aku menghargainya. Meski demikian, aku tetap masih kurang tertarik berkenalan lebih serius dengan mahluk bernama pria.

Usahanya yang gigih terus-menerus untuk berusaha menemuiku, membuatku harus menyampaikan sesuatu padanya.

“Saya seorang janda. Banyak di luar sana orang lebih baik yang bisa Anda dapatkan,” begitu kalimatku suatu hari ketika berusaha menemuiku.

Tapi rupanya, kata-kata itu tak membuat dia mundur untuk terus berusaha ingin menemuiku. Singkat kata, keluarlah pernyataan jujurnya yang disampaikan padaku.

“Bagiku bukan soal janda. Saya butuh istri dengan latar belakang agama (Islam) yang baik. Setidaknya, aku menemukan itu padamu,” katanya.

Pernyataan ini cukup mengagetkan dan setidaknya membangunkan kesadaranku selama ini. Ternyata dia serius ingin mencari seorang istri. Sementara aku, masih terbawa terutama lama, KDRT yang terus menyisahkan luka.

Dengan kerendahan hati, kegalauan ini kusampaikan terus-menerus di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala di kala shalat, agar aku mendapatkan jalan terbaik, pilihan Allah semata.

Dengan takdirnya, akhirnya Allah mempertemukanku dengan seorang pria baik, seseorang yang sebelumnya belum pernah mengenal secara dekat dengan wanita, bahkan dia seorang perjaka.

Allah mengirimku seorang perjaka baik-baik, yang kelembutannya di atas mantan suamiku, dan ketulusannya bukan main-main telah diberikan kepadaku. Meski hanya lulusan SMU, tetapi ilmunya di atas orang sarjana yang pernah kutemui. Seorang yang matang dan dewasa, bertolak belakang dengan mantan suamiku yang dahulu. Setahun kami menikah, ia ingin bertempat tinggal dekat pesantren di mana aku mengabdi. Dia yang rajin shalat dan ibadah tak pernah lalai di acara-acara kajian dan daurah. Kini, kami dikaruniai seorang putri manis kesayangan kami. Oh ya, Alhamdulillah, kami berdua kini juga tinggal bersama-sama dengan anak pertama. Dan suamiku yang kedua ini juga sayang pada anaku yang pertama, layaknya anak sendiri. Jadi telah lengkap sudah kegembiraan ini. “Hasbunallah wa nikmal wakil, Nikmal maula wa Nikman Nasir”(Cukuplah Allah saja yang menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

Hikmah

[يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {200
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Nikmat dan musibah adalah salah satu bekal hidup seorang Muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia. Rasulullah dalam sebuah hadits mengatakan. "Sesungguhnya tidaklah kalian diberi sesuatu (kenikmatan) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." [HR. Bukhori (13/94), Muslim (2/601)]

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*/Sebagaimana diceritakan ALRedaksi menerima tulisan dan kisah serupa agar bisa memberi inspirasi dan pelajaran bagi yang lain.

Kamis, 06 Desember 2012

Kisah Nyata: Gadis Itu Tewas dalam Posisi Menari

Sebagai pemandi mayat selama 13 tahun di Saudi Arabia ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Ketika ia membuka selimut yang menutupi mayat tersebut ia seketika pingsan. Beberapa wanita datang berusaha menyadarkannya, setelah ia sadar Fulanah segera menemui ibu si mayat tersebut dan bertanya, wahai ukhti seumur hidupku aku belum pernah melihat kondisi jasad yang demikian, aku melihat jasad putrimu dalam keadaan menari (berjoget) apa yang dilakukan putrimu di masa hidupnya??
Sang ibu dengan terisak menceritakan, bahwa putrinya semasa hidupnya menggandrungi musik dan nyanyian. Ia terobsesi dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG) sulit bagi sang ibu untuk menasehatinya. Ia senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hit dalam video klips, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya di isi dengan nyanyian dan musik.

Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja didalamnya ada nyannyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan dirinya.Mulailah ia menari (berjoget) dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolongnya dan mereka mendapati gadis itu telah tiada. Dan, tubuhnya kaku (benar-benar kaku dan keras)tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget).

Setelah mendengar penjelasan sang ibu, Fulanah berusaha memandikan mayat gadis malang itu ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan. Tapi, subhanallah jasad itu benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.

Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti diatas mendapatkan hukuman seperti itu, bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan para penyanyi (artis) itu sendiri bila mereka tidak segera bertaubat kepada Allah ?

Tidakkah kita mengambil ibrah ini wahai hamba Allah?? Tidak menjadi jaminan usia yang muda tidak akan diburu ajal? Tidakkah kita takut ketika kita melakukan maksiat tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dengan mendadak? Berapa banyak generasi salaf takut akan kondisi diatas, mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk).Ada diantara mereka yang senantiasa berdoa agar Allah mewafatkan mereka ketika mereka sedang sujud sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqamah dalam ketaatan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.amin.

Sumber: Daurah Syar’iyah Muslimah Mahad Darul Hidayah, Rabwa, Riyadh.