| Mera Naam Joker: Rumpun Melayu
Tampilkan postingan dengan label Rumpun Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumpun Melayu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Suku Bangsa Sakai

Suku Sakai

Suku Sakai merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang hidup di pedalaman Riau, Sumatera. Suku Sakai merupakan keturunan Minangkabau yang melakukan migrasi ke tepi Sungai Gasib, di hulu Sungai Rokan, pedalaman Riau pada abad ke-14.[1] Seperti halnya Suku Ocu, Orang Kuantan, dan Orang Indragiri, Suku Sakai merupakan kelompak masyarakat dari Pagaruyung yang bermigrasi ke daratan Riau berabad-abad lalu. Sebagian besar masyarakat Sakai hidup dari bertani dan berladang. Tidak ada data pasti mengenai jumlah orang Sakai. Data kependudukan yang dikeluarkan oleh Departemen Sosial RI menyatakan bahwa jumlah orang Sakai di Kabupaten Bengkalis sebanyak 4.995 jiwa

SUKU SAKAI DALAM TIGA KEKUASAAN

Oleh zulfaeva
1. Pendahuluan
       Propinsi Riau didiami masyarakat suku terasing yang terdiri dari 5 suku yang termasuk kategori masyarakat terasing. Kelima suku terasing tersebut adalah: (1). Suku laut, (2). Suku Hutan, (3). Suku Talang Mamak, (4). Suku Bonai, (5). Suku Akit.
          Suku sakai merupakan suku terasing yang mendiami propinsii Riau.  Dari tempat tinggal, masyarakat Sakai dapat dibedakan menjadi sakai Luar dan sakai Dalam.  Sakai dalam merupakan warga sakai yang masih hidup setengah menetap dalam rimba belantara, dengan mata pencarian berburu, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan. Sakai luar adalah warga yang mendiami perkampungan berdampingan dengan pemukiman-pemukiman puak melayu dan suku lainnya[5].
          Dilingkungan masyarakat suku sakai masih ditemukan upacara yang berkaitan dengan daur hidup (Life cycle). Pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan secara turun temurun yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku sakai. Adapun upacara tersebut antara lain: (1).. Upacara kematian, (2). Upacara kelahiran, (3). Upacara pernikahan, (4). Upacara penobatan batin (orang yang dituakan atau pemimpin suku) baru. Selain upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup (ife cycle) ada juga upacara yang berkaitan dengan peristiwa alam diantaranya, (1). Upacara menanam padi, (2). Upacara menyiang, (3). Upacara sorang sirih, dan (4). Upacara tolak bala.
          Dewasa ini masyarakat sakai sudah mengalami perubahan sebagian sudah memeluk agama Islam dan memperoleh pendidikan mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Masyarakat suku sakai tidak hanya bekerja sebagai peramu tetapi sudah ada yang bekerja sebagai guru, pegawai negeri, pedagang, petani dan nelayan. Walaupun sudah mengalami perubahan dalam masyarakat sakai tetapi masih berkaitan dengan upacara daur hidup masih melekat dalam kehidupan mareka. Masyarakat berpandangan apabila tidak melaksanakan upacara tersebut akan mendapatkan musiah menurut kepercayaan mereka yaitu akan diganggu oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan antu (hantu).           Dari uraian di atas maka  peneliti tertarik mempelajari sejarah asal usul orang suku sakai dan tentang bagaimana suku sakai dalam masa 3 kekuasaan pemerintah yang ada di Riau ini.
 
2.Metode Penelitian
       Penelitian ini dilakukan di daerah propinsi Riau ini di tahun 2007. Metode  yang digunakan adalah metode penelitian sejarah kritis dan metode penelitian kualitatif menurut Snowboll sampling. Menurut Louis Gottschalk metode sejarah adalah proses menuju dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau[6], untuk memperlihatkan rekonstruksi yang imajinatf pada sejarah suku sakai, dengan menilai secara kritis asal usul suku sakai yang sampai ke propinsi Riau dan disajikan dalam bentuk historiografi sejarah.
 


3. Sejarah Suku Sakai di Riau
          Nama sakai dalam sebutan bagi penduduk pengembara yang terpencil dari lalu lintas kehidupan dunia kekinian di Riau. Mereka tinggal di bagian hulu sungai Siak[7]. Menurut Boehari Hasmmy (dlm Parsudi Suparlan), mengatakan bahwa orang sakai datang dari kerajaan Pagaruyung Minangkabau Sumatera Barat dalam dua gelombang migrasi. Kedatangan pertama diperkirakan terjadi sekitar abad ke 14 langsung ke daerah Mandau. Sedangkan yang datang kemudian diperkirakan tiba di Riau abad ke 18, yang datang di kerajaan Gasib dan kemudian hancur diserang oleh kerajaan Aceh, sehingga penduduknya lari ke dalam hutan belantara dan masing-masing membangun rumah dan ladangnya secara terpisah satu sama lainnya di bawah kepemimpinan salah seorang diantara mereka.
          Orang sakai tergolong dalam ras Veddoid[8] dengan ciri-ciri rambut keriting berombak. Kulit coklat kehitaman, tinggi tubuh laki-laki sekitar 155 cm dan perempuan 145 cm. Untuk berhubungan satu sama lain, orang Sakai menggunakan bahasa sakai. Banyak diantara mereka mengujar logat-logat bahasa batak Mandailing, bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu.
          Menurut Moszkowski (1908) dan kemudian dikutib oleh Loeb-(1935) Orang Sakai adalah Orang Veddoid yang bercampur dengan orang Minangkabau yang datang berimigrasi pada sekitar abad ke-14 ke daerah Riau, yaitu  ke Gasib, di tepi sungai gasib di hulu sungai Rokan. Gasib kemudian menjadi sebuah kerajaan dan kerajaan ini kemudian dihancurkan oleh kerajaan Aceh, dan warga masyarakat ini melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar daerah sungai-sungai Gasib, Rokan dan Mandau serta seluruh anak-anak sungai Siak. Mereka adalah nenek moyang orang sakai. Sedangkan menurut Boechari Hasny (1970) yang memperoleh keterangan mengenai asal-muasal orang sakai dari para orang tua sakai, berasal dari Pagaruyung, Batusangkar, dan dari Mentawai.


 


4. Suku Sakai Berasal dari Perbatinan Lima dan Perbatinan Delapan
a. Perbatinan Lima
          Negeri Pagaruyung sangat padat penduduknya. Raja berusaha mencari wilayah-wilayah pemukiman baru untuk menampung kepadatan penduduknya. Yang dipilih adalah wilayah-wilayah di sebelah timur Pagaruyung karena tampaknya masih kosong penduduk dan hanya dipenuhi rimba belantara. Sebuah rombongan yang jumlahnya 190 orang terdiri dari 189 orang janda dan seorang hulubalang atau prajurit laki-laki sebagai kepalanya dikirim oleh raja untuk berangkat ke arah timur. Mereka menembus hutan rimba belantara dan akhirnya mereka sampai di tepi sebuah anak sungai yang mereka namakan sungai Biduando, yang artinya sungai dari rombongan 189 orang janda yang dipimpin oleh seorang kepala rombongan (bidu = kepala rombongan, dan Ando = janda). Nama Biduondo kemudian berubah menjadi Mandau[9].
          Setelah rombongan 190 orang tersebut untuk beberapa lamanya tinggal di tepi sungai Mandau, mereka menyimpulkan bahwa wilayah di sekitar sungai tersebut layak untuk dijadikan tempat pemukiman yang baru. Rombongan tersebut kemudian kembali pulang ke Pagaruyung melaporkan hasil ekspedisi mereka. Raja Pagarruyung kemudian mengirim lagi rombongan perintis yang terdiri atas tiga orang hulubalang atau prajurit, yaitu Sutan Janggut, Sutan Harimau dan Sutan Rimbo.
          Rombongan tiga orang hulubalang ini berjalan menuju ke arah wilayah Mandau dengan mengikuti bekas-bekas perjalanan rombongan 190 orang. Perjalanan tiga orang ini berlangsung selama beberapa tahun. Mereka membawa makanan dan bekal bibit tanaman serta membawa peralatan yang diperlukan dan bijih-bijih besi untuk mereka tempa menjadi parang dan peralatan lainnya, bila diperlukan. Setelah beberapa tahun dalam perjalanan mereka bukannya sampai ke wilayah Mandau tetapi tiba di Kunto Bessalam (Kunto Darussalam). Mereka menyerahkan diri kepada raja Kunto Bessalam, dan setelah beberapa lamanya tinggal di kerajaan tersebut mereka dianggkat sebagai hulubalang raja. Pada waktu itu raja Kunto Bessalam bercita-cita menjadikan negerinya sebagai sebuah kerajaan yang besar tetapi jumlah penduduknya hanya terdiri atas 25 keluarga dan 10 orang Hulubalang. Diputuskan oleh raja Kunto untuk mencari tambahan penduduk dengan cara mendatangkan kira-kira 100 orang penduduk baru. Diputuskan untuk mencari tambahan penduduk Mentawai karena menurut keterangan yang mereka peroleh penduduk Mentawai jumlahnya berlebihan. Sutan Janggut, Sutan Harimau, dan Sutan Rimbo diutus oleh raja untuk mencari tambahan penduduk.
          Rombongan tiga orang ini setelah tiba di Mentawai menyerahkan emas, perak, dan intan berlian kepada kepala kampung Mentawai sebagai pembawaran atas 100 orang yang mereka butuhkan. Mereka yang seratus orang ini kedudukannya kira-kira sama dengan setelah budak. Oleh raja Kunto Bessalam mereka dijadikan penduduk dengan kewajiban bekerja secara rodi bersama dengan penduduk aslinya yang berjumlah 25 keluarga dalam membangun kota Kunto Bessalam. Yang dibangun adalah istana, benteng, jalan-jalan dan saluruan-saluran air. Setelah berjalan selama sepuluh tahun pembangunan tersebut selesai dikerjakan, dan kerajaan kunto Bessalam menjadi besar. Raja Kunto Bessalam mengalihkan kegiatan pembangunan ke kerajaan Rokan Kanan dan Kiri yang berkerabat dan bersahabat dengannya, dengan mengirimkan 50 keluarga yang dipimpin oleh Sutan Janggut dan Sutan Rimbp untuk bekerja disitu.
Tetapi sebelum pekerjaan pembangunan dilaksanakan dengan baik, Sutan Janggut dan Sutan Rimbo bersama dengan lima keluarga yang telah melarikan diri dari kerajaan Rokan kanan dan Kiri masuk ke hutan. Sebabnya adalah Raja Rokan Kanan dan Kiri sangat kejam. Pembangunan kerajaan Rokan Kanan dan Kiri berjalan terus, setelah sepuluh tahun kerajaan ini menjadi besar dan jaya seperti kerajaan Kunto Bessalam. Keluarga-keluarga pekerja yang ditinggalkan oleh rombongan yang melarikan diri sebagian dari mereka tetap menjadi penduduk kota Rokan Kanan dan Kiri. Dan sebagian lainnya tinggal di pedesaan yang berdekatan dengan Rokan Kanan dan Kiri (di desa Sintung dan beberapa desa lainnya). Sehingga sebenarnya mereka seasal dengan lima keluarga yang melarikan diri, yang menjadi nenek moyang orang Sakai di Mandau.
Rombongan yang melarikan diri dibawah pimpinan Sutan Janggut dan Sutan Rimbo itu berjalan ke arah wilayah Mandau. Setelah beberapa tahun mengembara dihutan-hutan mereka sampai di tepi sungai Syam-syam, di hulu sungai Mandau, dan merupakan salah satu anak sungai Mandau. Mereka berjalan terus ke arah hulu sungai dan akhirnya tiba di wilayah yang dialiri tujuh buah anak sungai. Dalam wilayah ini terdapat bekas-bekas pemukiman yang menurut dugaan mereka adalah bekas-bekas rombongan pertama yang berjumlah 190 orang. Setelah tinggal untuk beberapa lamanya di tempat tersebut rombongan ini meneruskan perjalanan dan tibalah mereka di hulu sungai Penaso. Mereka tinggal untuk sementara di hulu sungai tersebut dan di sini sutan Rimbo meninggal dunia. Rombongan ini kemudian menuju ke arah Mandau, dan dalam perjalanan menuju Mandau sutan Janggut pergi secara diam-diam meninggalkan rombongan tersebut. Rombongan tiba di desa Mandau dan menyerahkan diri kepada kepala desa (penghulu) Mandau yang bernama Takim. Desa Mandau ini sekarang bernama desa Beringin yang penduduknya adalah orang Melayu.
Setelah beberapa tahun tinggal di desa Mandau rombongan yang berjumlah lima keluarga ini memohon untuk diberi tanah/hutan bagi mereka menetap dan hidup, karena tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke Pagaruyung ataupun ke Kunto Bessalam. Oleh kepala desa Mandau masing-masing keluarga diberi hak ulayat atas tanah-tanah dan hutan-hutan yang berada di daerah:
1.       daerah sekitar Minas
2.     daerah sekitar hulu Sungai Penaso
3.     daerah sekitar hulu sungai Beringin
4.     daerah sekitar sungai Belutu
5.     daerah sekitar sungai Ebon di Tengganau
Rombongan  yang terdiri atas lima keluarga ini kemudian beranak pinak di masing-masing wilayah tempat hidup mereka. Massing-masing tempat pemukiman tersebut dinamakan perbatinan (dukuh) yang dipimpin oleh seorang kepala perbatinan atau batin. Karena jumlah penduduk massing-masing perbatinan tersebut bertambah besar, dan karena adanya usaha penyeragaman administrasi yang dilakukan oleh pemerintah kerajaan Siak dalam usaha mempermudah penarikan pajak, maka masing-masing perbatinan tersebut dijadikan kepenghuluan atau desa dan dikepalai oleh seorang batin atau kepala desa. Desa-desa atau kepenghuluan-kepenghuluan Orang Sakai yang tergolong dalam Perbatinan Lima[10] tersebut adalah:
  1. Desa  Minas. Desa ini masih ada dan sebagaian besar warganya adalah Orang Sakai
  2. Desa Penaso. Desa ini sudah tidak ada lagi sekarang (1982), karena jumlah penduduknya hanya 8 keluarga, Penaso dijadikan sebuah Rukun Kampung dari desa Muara Basung. Sebagian penduduknya menjadi warga pemukiman masyarakat terasing yang dibangun di Sialang Rimbun dan di Kandis, dan sebagian lainnya tinggal di rumah-rumah yang dibangun di atas ladang yang mereka kerjakan di sekitar daerah Sialang Rimbun dan Balai Pungut, dan masih sebagian lainnya tinggal dalam kelompok-kelompok kecil rumah sederhana yang dibangun di sepanjang jalan raya antara kota Duri dan Minas.
  3. Desa Beringin Sakai. Pada masa sekarang desa ini sudah tidak ada lagi karena seluruh warganya dipimpin oleh kepala desa dan telah berpindah ke pemukiman masyarakat terasing di Sialang Rimbun, sebagian lainnya di pemukiman masyarakat terasing di Kandis dan di Bulu Kasap.
  4. Desa Tengganou, desa ini masih ada dan sebagian warganya adalah orang sakai.

b. Perbatinan Delapan
       beberapa lamanya setelah keberangkatan rombongan terakhir meninggalkan Pagaruyung, kerajaan ini telah menjadi padat lagi penduduknya. Mencari nafkah dirasakan sulit dan kehidupan dirasakan berat oleh sebagian dari warga masyarakat. Secara diam-diam, tanpa meminta izin dari raja. Sebuah rombongan yang terdiri atas suami-istri, dan seorang hulubalang yang menjadi kepala rombongan yang bernama batin pada suatu malam meninggalkan Pagaruyung. Tujuan mereka adalah membuka daerah baru untuk tempat pemukiman.
          Setelah beberapa lamanya dalam perjalanan akhirnya sampailah mereka ke hulu sungai Syam-syam, di Mandau. Di wilayah tersebut mereka berkeliling sampai ke daerah yang dialiri tujuh buah anak sungai. Tanahnya datar dan digenani air. Di tempat terakhir ini mereka tinggal untuk beberapa tahun lamanya. Mereka membuat ladang, rumah, menempa besi untuk mrmbuat peralatan berbagai alat pertanian dan rumah tangga. Beberapa waktu lamanya  kemudaian dan istri dari keluarga yang menjadi anggota rombongan  tersebut mengandung. Dalam mengidamnya sang istri meminta kepada sang suaminya untuk mencari banyi rusa jantan yang masih ada dalam kandungan. Tetapi yang didengar oleh sang suami adalah bayi jantan yang dikandung oleh pelanduk (kancil) jantan. Sang suami pergi berburu dan tidask pernah kembali karena tidak pernah menemukan ada pelanduk jantan yang mengandung untuk memenuhi permintaan nyidamnya sang istri. Karena dia telah berjanji tidak akan memenuhi istrinya kalau tidak dapat memenuhi permintaan nyidamnya. Setelah itu rombongan 12 orang perempuan yang dipimpin oleh batin sangkar bermaksud meninggalkan tempat tersebut mencari daerah lainnya yang lebih baik. Sang istri tidak mau turut dan rombongan tersebut tidak dapat lagi ditahan oleh sang istri untuk menunggu kedatangan sang suami. Rombongan 12 orang berangkat dang sang istri melahirkan bayi laki-laki. Setelah bayi tersebut besar, kedua anak-beranak tersebut kembali ke pagarruyung melaporkan apa yang telah mereka lakukan dan memohon ampun kepada raja Pagarruyung. Raja Pagarruyung mengirim lagi serombongan laki-laki dan keluarga untuk memenuhi rombongan yang dipimpin oleh Batin Sangkar.
          Batin yang dipimpin oleh Batin Sangkar akhirnya, setelah merambah hutan belantara dan rawa-rawa, sampailah mereka didaerah Petani. Setelah menetap di Petani untuk beberapa  tahun lamanyan, Bati Sangkar memutuskan untuk mencegah rombongan tersebut ke dalam delapan tempat pemungkiman yang letaknya saling berdekatan. Mereka membuka hutan di tepat-tempat pemukiman baru yaitu (1) Petani, (2) Sebanga/Duri km, 13,  (3) Air Jamban Duri, (4) pinggir, (5) Semunai, (6) Syam-Syam, (7) Kandis, (8) Balaimakam[11]. Setelah delapan tempat  pemungkiman tesebut selesai dibangun, kebetulan datng rombongan yang terakhir dari Pagarruyung yang dikirim oleh Batin Sangkar, keluarga-keluarga tersebut dibagi rata penempatan tempat tinggal di delapan buah tempat pemukiman tersebut dalam rombongan pendatang tersebut telah diangkat sebagai pembantunya. Oleh batin Sangkar pembantunya tersebut disuruhnya pergi ke kota Siak Sri Indrapura untuk menghadap kepada raja Siak dan memohon izin untuk dapat dijadikan rakyat kerajaan Siak Indrapura dan diberi pengesahan atas hak pemukiman dan menggunakan tanah atau hutan wilayahnya.
          Jadi dari sejarah asal muasal orang sakai khususnya sejarah terbentuknya perbatinan lima dan delapan, dapat dilihat bahwa orang sakai menurut penelitian ini mereka berasal dari Minangkabau (Pagaruyung dan Mentawai). Dan mereka adalah orang belian (setengah budak). Yang menarik untuk diperhatikan adalah unsur perempuan yang mayoritas dan dominan dalam legenda asal-muasal tersebut. Ciri-ciri ini tampak dalam sistem pembagian warisan. Dan ciri pembagian sistem kemasyarakatan orang sakai adalah Molety atay paruh dua, yaitu perbatinan lima dan perbatinan delapan. Klasifikasi ini muncul lagi dalam sistem pertanian yang dipinjam dari Minangkabau yaitu padi Induk dan padi anak.

1. Masa Kekuasaan Pemerintahan Kerajaan Siak
       Para batin orang sakai memperoleh surat pengakatan menjadi batin dari raja Siak. Dua kelompok perbatinan masing-masing diperlakukan sebagai sebuah satuan administrasi kekuasaan yang jelas wilayah kekuasaan masing-masing. Pemerintah kerajaan Siak menarik pajak dan upeti dari perbatinan ini. Pajak dan upeti yang ditarik berupa berbagai hasil hutan dan juga anak-anak gadis. Pajak-pajak tersebut dalam wilayah perbatinan lima diserahkan kepada raja Siak melalui tangan penghulu (kepala desa) Mandau, sedangkan pajak-pajak dari perbatinan delapan diserahkan melalui tangan penghulu (kepala desa) petani. Adapun gadis-gadis orang sakai diserahkan di balai pungut tempat para bangsawan beristirahat (balai=rumah atau tempat, pungut = memungut atau memilih untuk diambil). Seorang batin memperoleh bagian kira-kira sepuluh persen dari pajak yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepada raja tersebut. Semula balai Pungut hanya berupa sebuah tempat dengan beberapa rumah yang dihuni oleh orang Melauu yang menjadi pegawai kerajaan Siak. Tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja siak. Pada mulanya daerah ini termasuk dalam wilayah perbatinan tengganau. Melalui hubungan mengangkat saudara (hubungan adik-beradik) yang dikukuhkan antara pegawai istana kerajaan tersebut yang menjadi kepala pemukimam balai pungut dengan batin tenggganau maka balai pungut dapat dijadikan dan dinaikkan kedudukannya sama dengan sebuah kepenghuluan (desa) yang setaraf kedudukannya dengan Tengganau. Menurut para informan, kepala desa balai pungut pada waktu itu berfungsi sebagai mata-mata dalam sistem keamanan wilayah kehidupan orang sakai[12].
          Pengangkatan seorang batin dalam zaman kerajaan siak selalu dilakukan dengan melalui suatu upacara penobatan yang diikuti dengan pesta makan-minum tujuh hari tujuh malam. Disamping batin, raja siak juga mengangkat seorang wakil batin yang diberi nama Tongkek. Upacara batin. Tugas seorang tongkek adalah membantu pekerjaan-pekerajaan batin, khususnya dalam kegiatan pengumpulan pajak, dan dalam keadaan batin berhalangan mewakili batin dalam tugas-tugasnya.
Tugas seorang Batin dalam zaman kerajaan siak, yang kemudian juga dilanjutkan dalam masa pemerintah jajahan Belanda disamping mengumpulkan pajak juga menjaga ketertibam kehidupan di pemukiman (menjaga jangan sampai terjadi pencurian, dan perbuatan-perbuatan maksiat (perzinahan). Seorang batin dapat menjatuhkan hukuman denda kepada warga masyarakat yang dipimpinnya yang kedapatan bersalah karena merugikan sesama warga masyarakatnya. Sedangkan hukuman badan ataupun pengadilan karena yang bersangkutan melakukan pembunuhan tidak dapat diputuskan oleh seorang batin. Dalam hal ini terjadinya pembunuhan maka si pembunuh diserahkan kepada punggawa kerajaan di Balai pungut, dan dalam zaman Belanda diserahkan kepada opas atau polisi.

2. Masa Kekuasaan Zaman Penjajahan Belanda
          Karena orang sakai hidup di tempat-tempat pemukiman yang terletak di daerah pedalaman dan selalu menjauhkan diri dari kehidupan bermasayarakat yang lebih luas, maka mereka tidak pernah atau jarang mempunyai hubungan langsung dengan orang belanda atau kekuasaan pemerintahan jajahan belanda yang ada di Riau. Walaupun kegiatan-kegiatan pencaharian dan pengeboran minyak telah dilakukan di wilayah kecamatan Mandau sejak sebelum perang dunia II tetapi kontak-kontak langsung dengan orang asing (Belanda) hampir tidak pernah terjadi. Hal ini disebabkan orang sakai takut dan malu terhadap orang asing[13].
          Kekuasaan pemerintah penjajahan Belanda di Riau, sama halnya dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Kekuasaan belanda bekerja sama dengan penguasa-penguasa tradisional setempat. Di daerah Mandau dan sekitarnya adalah melalui kekuasaan raja siak. Sehingga orang sakai hanya mengetahui dan merasakan kekuasaan dan kewibawaan kerajaan Siak. Inipun dilakukan oleh para batin orang sakai. Seperti terjadinya peristiwa pembunuhan, barulah opas atau polisi yang merupakan alat kekuasaan pemerintah Belanda menangani masalah ini sampai ke daerah-daerah pedalaman tempat tinggal orang Sakai.

3. Masa Kekuasaan Zaman Pemerintahan Jepang
       Selama masa pemerintahan Jepang orang sakai tidak dipedulikan oleh orang Jepang. Mereka dibiarkan menjalani hidup cara mereka sebelumnya. Bahkan dalam membayar pajak ataupun kerja wajib (romusha) tidak diwajibkan oleh pemerintah Jepang. Walaupun wilayah tempat kehidupan mereka dijadikan tempat kegiatan-kegiatan pembangunan jalan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya. Mereka melihat kekejaman tentara Jepang terhadap para pekerja romusha yang didatangkan dari Jawa. Sebagian kecil dari romusha ini dapat melarikan diri dari rombongan romusha tersebut. Mereka ditolong dan diberi makan dan disembunyikan oleh orang-orang sakai yang ada di daerah sekitar ini. Diantara mereka yang ditolong ini kemudian hidupa bersama dengan menjadi warga masyarakat orang sakai yang menolongnya dan kawin dengan wanita orang Sakai yang menolongnya dan kawin dengan wanita orang sakai setempat. Di Muara Basung ada dua orang sakai yang menyatakan ayahnya adalah romusha yang melarikan diri dan kawin dengan orang sakai. Kemudian juga di PKMT (Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing) Sialang Rimbun juga ada dua orang warganya berayahkan seorang pelarian romusha.

KESIMPULAN
       Jadi suku Sakai berasal dari daerah Minangkabau dan Mentawai. Dalam masa pemerintahan raja Siak suku Sakai dikenakan pajak pada daerah perbatinan lima dan perbatinan delapan. Dalam masa pemerintahan Belanda mereka dijadikan alat untuk merebut daerah kekuasaan dengan berusaha mendekati Batin (kepala suku sakai). Yang lebih tidak dipedulikan suku sakai pada masa pemerintahan Jepang. Untuk pekerjaan romusha mereka tidak dipaksa untuk ikut serta. Pada zaman Jepang inilah suku sakai paling menderita.
DAFTAR PUSTAKA

Depsos, 1988, Petunjuk Teknis Masyarakat Terasing dan Terbelakang, Direktorat Bina Masyarakat Terasing, Jakarta.
Koentjaraningrat, 1984, Masyarakat Desa di Indonesia, FE UI, Jakarta.
Louis Gohschalk, 1975, Mengerti Sejarah, Jakarta: Yayasan Penerbit UI.
Suroyo, 2005, Upacara Perkawinan Dalam Masyarakat Suku Terasing di Propinsi Riau (Studi Pada Suku Sakai di Mandau Kab. Bengkalis Propinsi Riau, (Tesis) UNP, Padang.
UU Hamidi, 1991, Masyarakat Terasing Daerah Riau Abad XXI, Zamrud, UIR, Pekanbaru.
Parsudi Suparlan, 1985. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Artikel.


Zulfa S.Pd, M.PD, menyelesaikan S1 di FKIP Sejarah UNRI, menyelesaikan S2 di UNP jurusan Pendidikan Sejarah dan sekarang sedang menyelesaikan program doktoral di UNP padang.

Totok Isdarwanto S.Pd, menyelesaikan S1 di FKIP Sejarah UNRI dan sekarang mengajar di MAN Kuok Bangkinang pada mata pelajaran sejarah.

[5] UU, Hamidi, Masyarakat Terasing Daerah Riau di Gerbang Abad XXI, (Pekanbaru:UIR,1991), hlm.12.
[6] Louis Gohschalk, Mengerti Sejarah, (Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1975),hlm.32.
[7] Depsos, Petunjuk Teknis Masyarakat Terasing dan Terbelakang, (Jakarta:Depsos,1988),hlm 27.
[8] Ibid, UU Hamidi
[9] Suroyo, Upacara Perkawinan dalam Masyarakat Suku Terasing di Propinsi Riau, Tesis, (Padang:UNP,2005) hlm 53.
[10] Ibid, hlm 55.
[11] Ibid, hlm 60.
[12] Ibid, UU Hamidi
[13] Ibid.

Suku Bangsa Orang Laut

Suku Laut


Desa Orang Laut di Kepulauan Riau.
Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup "berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan."[1]
Sebutan lain untuk Orang Laut adalah Orang Selat. Orang Laut kadang-kadang dirancukan dengan suku bangsa maritim lainnya, Orang Lanun.
Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.[2]

Bahasa Orang Laut

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu dan digolongkan sebagai Bahasa Melayu Lokal. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut kadang-kadang dijuluki sebagai "kelana laut", karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Sejarah

Pada zaman kejayaan Malaka, Orang Laut merupakan pendukung penting kerajaan maritim tersebut. Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka--yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas --Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.
Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada
 
1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.
Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

 

Suku Laut Diperairan Selat Melaka

indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Lebih dari 17.000  pulau besar dan kecil membentang, dari Sabang hingga Merauke. Di dalamnya, hidup berbagai macam suku adat dan budaya yang berbeda. Kita adalah negera yang kaya akan budaya, suku dan ras. Salah satunya adalah suku laut.
Suku laut merupakan orang-orang yang hidup di sekitar kepulauan Riau. Tepatnya di kabupaten Lingga. Mungkin jarang orang yang mengenal suku laut. Karena, suku laut adalah orang-orang yang terisolir dari perkembangan zaman. Mereka tidak seprimitif suku anak dalam di Jambi. Namun, suku laut mungkin terlupakan oleh pemerintah karena banyak di antara mereka yang masih buta huruf. Hal ini menandakan bahwa kurangnya perhatian pemerintah pada warganya.
Kehidupan Masyarakat Suku Laut
Orang suku laut merupakan orang-orang yang mengadalkan penangkapan ikan sebagai nafkah hidup mereka. Mereka berprofesi sebagai nelayan. Kebanyakan dari mereka tinggal di atas rumah perahu yang terapung di muara sungai. Terkadang hidup mereka masih nomaden, dengan cara berpindah-pindah. Untuk itu mereka hanya mengenal kelompoknya atau sukunya sendiri. Masyarakat suku laut cenderung memisahkan diri dari kelompok atau suku lain.
Suku laut terdiri dari beberapa klan seperti suku mampor, suku mantang dan suku barok. Mereka sangat kuat terhadap garis keturunannya. Seperti adat melayu umumnya, suku laut mengambil garis ayah sebagai garis keturunan. Sehingga mereka harus dapat mewarisi sifat-sifat ayahnya. Mereka sangat patriarki.
Orang laut atau suku laut, begitu orang melayu pedalaman menyebutnya. Dulunya, mereka adalah perompak di lautan. Mereka merupakan orang-orang kuat yang menguasai selat malaka. Bagi kerajaan Sriwijaya dan kesultanan Johor, mereka merupakan kelompok yang sangat penting. Budaya hidup di laut menjadikan mereka mata rantai, yang menjaga hubungan perairan antara kerajaan-kerajaan di kepulanan Riau dan Malaka.
Mereka hidup dan berbudaya selama berabad-abad di atas lautan. Mereka lahir, kawin dan mati di lautan. Laut adalah bagian dari kehidupan mereka. Namun, kehidupan itu membuat mereka menjadi krisis identitas. Mereka sering masuk ke wilayah Malaysia dan menikah dengan suku laut yang ada di sana, maka kewargaan negara mereka patut dipertanyakan. Mereka seperti tidak perduli dengan kehidupan politik. Tidak penting bagi mereka menjadi orang Indonesia atau orang Malaysia. Cukup panggil mereka 'orang laut'.
Novel berjudul 'Laskar Pelangi', yang ditulis Andrea Hirata juga sedikit mengupas tentang kehidupan dan kebudayaan suku laut. Diceritakan tentang suku laut yang tinggal di wilayah bangka belitung. Mereka disebut orang-orang sawang. Orang-orang yang kuat dan hidup dengan kehormatannya. Laut adalah jiwa dan naluri manusianya.
Konon kabarnya, orang-orang suku laut sanggup menyelam sedalam 30 hingga 50 meter kedalam lautan tanpa menggunakan bantuan tabung oksigen. Mereka menyelam guna menangkap ikan, seperti tripang, bawal, kakap, cumi-cumi, bahkan hiu.
Menurut ahli sejarah, mereka sudah tinggal di laut sejak awal tahun masehi. Untuk itu laut sudah menjadi rumah mereka. Pemerintah Indonesia pernah sedikit peduli pada suku terasing ini. Misalnya membuatkan rumah semi permanen  yang sangat sederhana di pinggiran pantai, baik yang ada di kepulauan riau atau di Bangka Belitung. Ternyata mereka meninggalkan rumah itu dan kembali kelautan.
Catatan terakhir tentang suku laut adalah yang berada di melayu Belitung dan hanya tinggal 50 kepala keluarga. Itu pun keberadaannya sangat sulit ditemui, karena cara hidup mereka yang sering berpindah-pindah. Bukan tidak mungkin, jika pemerintah masih saja apatis terhadap suku terasing, mereka akan punah bersama kebudayaannya.
Salah satu kebudayaan mereka yang terkenal adalah tari campak laut. Tarian ini mirip tarian melayu yang dipadukan dengan berbalas pantun. Konon kabarnya, orang-orang suku laut ini sangat pandai berpantun. Karena pantun itu lahir dari kebudayaan mereka.
Dalam kepercayaan, masyarakat suku laut masih menganut animisme. Tapi beberapa diantara mereka sudah ada yang memeluk agama Islam, walaupun Islamnya masih bercampur dengan kepercayaan nenek moyang. Mereka sangat mempercayai takhayul tentang keramatnya suatu benda atau daerah. Bahkan ketika pergi melaut, mereka menggunakan hitungan tanggal dan weton untuk mengetahui hari keberutungan atau hari naas mereka. Mereka ahli membaca bintang dan bulan. Bagaimana tidak, mereka hidup di lautan. Dan satu-satunya petunjuk di laut selain kompas adalah bintang.
Suku laut selalu memegang komitmen kuat akan kehormatan dan jati diri mereka. Mereka tidak mau beralih pada profesi lain selain nelayan. Mereka juga tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau daratan. Alam merupakan sumber kehidupan mereka tanpa ada kepentingan yang lain. Misalnya mengeruk kekayaan alam dengan sangat besar, serta berdalih untuk kepentingan rakyat. Laut digunakan hanya untuk kepentingan perut, tanpa dalih apa-apa. Mereka adalah orang-orang yang lugu namun punya harga diri.

Suku Bangsa Talang Mamak

Suku Talang Mamak


Suku Talang Mamak tergolong Proto Melayu (Melayu Tua) yang merupakan suku asli Indragiri Hulu dengan sebutan ”Suku Tuha” yang berarti suku pertama datang dan lebih berhak atas sumber daya alam di Indragiri Hulu.

Asal Usul

Dari Pagaruyung

Ada dua versi mengenai keberadaan Suku Talang Mamak ini. Menurut Obdeyn-Asisten Residen Indragiri, Suku Talang Mamak berasal dari Pagaruyung yang terdesak akibat konflik adat dan agama.

Dari Kahyangan (Mitos)

Sedangkan menurut mitos, suku ini merupakan keturunan Adam ke Tiga dari kayangan yang turun ke Bumi, tepatnya di Sungai Limau dan menetap di Sungai Tunu (Durian Cacar). Hal ini terlihat dari ungkapan ”Kandal Tanah Makkah, Merapung di Sungai Limau, menjeram di Sunagi Tunu” itulah manusia pertama di Indragiri bernama patih.


 Lokasi

Suku Talang Mamak sendiri tersebar di kecamatan :
  1. Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau
  2. Batang Cenaku, Indragiri Hulu, Riau
  3. Kelayang, Indragiri Hulu, Riau
  4. Rengat Barat, Indragiri Hulu, Riau
  5. Sumay, Tebo, Jambi : Dusun Semarantihan Desa Suo-suo

Bahasa

Bahasa Talang Mamak (serta Bahasa Sakai) termasuk dialek Bahasa Kerinci (kvr)

Dusun Tuo Datai

Akses

Untuk menuju Dusun Tuo Datai Talang Mamak yang terletak di Hulu Sungai Gansal dan Sungai Melenai Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu di Wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh dapat diakses jalan Darat. Yaitu melalui Siberida (Pekanbaru-Siberida 285 km) dengan menggunakan Mobil untuk menuju jalan bekas HPH. Atau juga melalui Simpang Pendowo sekitar 2,5 km dari desa Keritang, desa yang terletak di Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Rute sejauh 22 km dari Simpang Pendowo hingga memasuki perbatasan wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) atau juga yang lebih dikenal Jalan Dalex ini, sebaiknya dilakukan dengan sepeda motor ”lelaki” atau mobil bergardan dua.
Selanjutnya, jarak tempuh dari jalan Dalex ke Dusun Tuo Datai sekitar 6 hingga 8 km hanya bisa dilewati jalan kaki. Meski tidak begitu jauh, namun jangan berharap akan segera sampai. Karena, medan yang diarungi harus ”mendaki gunung melewati lembah sungai mengalir indah.” Jadi, diperlukan stamina jreng untuk menempuh 1 hingga 3 jam perjalanan.

Hasil Kebun

Biasanya pada hari tertentu, Suku Talang Mamak akan turun ke desa terdekat, Keritang atau Siberida. Tujuannya menjual hasil kebun atau hasil hutan yang mereka peroleh untuk dibelikan kebutuhan hidup. ”Tapi, sekarang kami sudah jarang turun. Hasil hutan sudah berkurang. Yang kami andalkan untuk keseharian hidup hanyalah hasil kebun,” jelas Pak Katak atau pak Sidam yang juga menjabat Ketua RT Dusun Tuo Datai.

Penduduk

Saat ini, total penduduk Talang Mamak dari Lubuk Tebrau hingga Melenai berjumlah 265 jiwa. Lima puluh persen jiwa diantaranya, sudah dapat menggunakan suaranya pada pemilihan Presiden dan pemilihan Bupati kemarin.

Agama

Sebagian besar masyarakat Talang Mamak mempercayai kekuatan-kekuatan gaib pada benda-benda yang berada di sekitar (animisme). Beberapa kepala keluarga beralih ke Islam. Mereka mengakui bahwa Islam adalah agama mereka, namun untuk ibadah hanya cukup di lisan saja.

Mata Pencaharian

Secara keseluruhan, mata pencarian mereka adalah berladang, menyadap karet, dan mengambil hasil hutan nonkayu. Di samping berburu atau juga menangkap ikan. Namun, kini Dusun Datai tampak sepi dan banyak rumah yang tidak terawat lagi. ”Sekarang banyak yang meninggalkan rumahnya, bisa jadi mereka sedang membuka kebun baru atau juga pergi mencari Jernang, ” lanjut Pak Katak tentang kondisi penduduknya.

Budaya

Untuk urusan budaya, Masyarakat Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tigapuluh sedikit berbeda dengan Tigabalai-Pusat kebudayaan Talang Mamak. Ini terlihat dari tidak adanya tradisi mengilir dan menyembah raja, serta lunturnya sistem kebatinan. Umumnya, mereka hidup otonom dalam beraktivitas sehingga berbagai persoalan yang ada akan diserahkan kepada kepala desa.

Tradisi

Namun begitu, mereka masih kental dengan tradisi adat. Sebut saja Gawai (Pesta Pernikahan), Kemantan (Pengobatan Penyakit), Tambat Kubur (Acara 100 hari kematian), serta Khitanan untuk anak lelaki berumur 12 tahun ke atas yang dianggap mendekati usia dewasa. Begitu juga dengan rumah yang masih berbentuk panggung, sebagai ciri khas mereka, misalnya. Bangunan kayu tanpa ruangan khusus serta sekat pembatas -mulai dari dapur hingga ruang tidur- sehingga, segala barang tergeletak menjadi satu masih kokoh berdiri.

Pengobatan

Meskipun mereka hidup secara tradisional, namun untuk masalah pengobatan bisa diandalkan juga. Hasil Ekspedisi Biota Medika (1998) menunjukkan Suku Talang Mamak mampu memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan mengenali 22 jenis cendawan obat.

Suku Talang Mamak

Sejarah
Suku Talang Mamak tergolong Melayu Tua (Proto Melayu) merupakan suku asli Indragiri, mereka juga menyebut dirinya “Suku Tuha”. Kedua sebutan tersebut bermakna suku pertama datang dan lebih berhak terhadap sumber daya di Indragiri Hulu. Ada beberapa versi asal suku Talang Mamak. Menurut Obdeyn-Asisten Residen Indragiri, Suku Talang Mamak berasal dari Pagaruyung yang terdesak akibat konflik adat dan agama. Sedangkan berdasarkan mitos bahwa Talang Mamak merupakan keturunan Adam ketiga berasal dari kayangan turun ke bumi, tepatnya di Sungai Limau dan menetap di Sungai Tunu (Durian Cacar, tempat Pati). Hal ini terlihat dari ungkapan “Kandal Tanah Makkah, Merapung di Sungai Limau, menjeram di Sungai Tunu”. Itulah manusia pertama di Indragiri nan bernama Patih.
Penyebaran
Suku Talang Mamak tersebar di empat kecamatan yaitu : Kecamatan Batang Gangsal, Cenaku, Kelayang dan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Dan satu kelompok berada di Dusun Semarantihan desa Suo-suo Kecamatan Sumai Kabupaten Tebo Jambi. Pada tahun 2000 populasi Talang Mamak diperkirakan ±1341 keluarga atau ±6418 jiwa.

Budaya

Kepercayaan Talang Mamak masih animisme dan sebagian kecil Katolik sinkritis khusunya penduduk Siambul dan Talang Lakat. Mereka menyebut dirinya sendiri sebagai orang “Langkah Lama”, yang artinya orang adat. Mereka membedakan diri dengan Suku Melayu berdasarkan agama. Jika seorang Talang Mamak telah memeluk Islam, identitasnya berubah jadi Melayu.
Orang Talang Mamak menunjukkan identitas secara jelas sebagai orang adat langkah lama. Mereka masih mewarisi tradisi leluhur seperti ada yang berambut panjang, pakai sorban/songkok dan gigi bergarang (hitam karena menginang). Dalam selingkaran hidup (life cycle) mereka masih melakukan upacara-upacara adat mulai dari melahirkan bantuan dukun bayi, timbang bayi, sunat, upacara perkawinan (gawai), berobat dan berdukun, beranggul (tradisi menghibur orang yang kemalangan) dan upacara batambak (menghormati roh yang meninggal dan memperbaiki kuburannya untuk peningkatan status sosial).
Kebanggaan terhadap kesukuan tersebut tidak lepas dari sejarah kepemimpinan Talang Mamak dan Melayu di sekitar Sungai Kuantan, Cenaku dan Gangsal. Kepemimpinan Talang Mamak tercermin dari pepatah “Sembilan Batang Gangsal, Sepuluh Jan Denalah, Denalah Pasak Melintang; Sembilan Batin Cenaku, Sepuluh Jan Anak Talang, Anak Talang Tagas Binting Aduan; beserta ranting cawang, berinduk ke tiga balai, beribu ke Pagaruyung, berbapa ke Indragiri, beraja ke Sultan Rengat”. Ini menunjukkan bahwa Talang Mamak mempunyai peranan yang penting dalam struktur Kerajaan Indragiri yang secara politis juga ingin mendapatkan legitimasi dan dukungan dari Kerajaan Pagaruyung.
kawintm1
Hingga sekarang sebagian besar kelompok Talang Mamak masih melakukan tradisi “mengilir/menyembah raja/datok di Rengat pada bulan Haji dan hari raya” sebuah tradisi yang berkaitan dengan warisan sistem Kerajaan Indragiri. Bagi kelompok ini ada anggapan jika tradisi tersebut dilanggar akan dimakan sumpah yaitu “ke atas ndak bepucuk, ke bawah ndak beurat, di tengah dilarik kumbang” yang artinya tidak berguna dan sia-sia.
Mereka memiliki berbagai kesenian yang dipertunjukkan pada pesta/gawai dan dilakukan pada saat upacara seperti pencak silat yang diiringi dengan gendang, main gambus, tari balai terbang, tari bulian dan main ketebung. Berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan upacara-upacara tradisional yang selalu dihubungkan dengan alam gaib dengan bantuan dukun.
Prinsip memegang adat sangat kuat bagi mereka dan cenderung menolak budaya lauar, tercermin dari pepatah “biar mati anak asal jangan mati adat”. Kekukuhan memegang adat masih kuat bagi kelompok Tigabalai dan di dalam taman nasional, kecuali di lintas timur karena sudah banyaknya pengaruh dari luar.
Dengan berlakunya UU Pemerintah Desa No. 5 tahun 1979, mengakibatkan berubahnya struktur pemerintahan desa yang sentralistik dan kurang mengakui kepemimpinan informal. Akhirnya kepemimpinan Talang Mamak terpecah-pecah, untuk posisi patih diduduki 3 orang yang mempunyai pendukung yang fanatis, demikian juga konflik terhadap perebutan sumber daya. Walaupun otonomi daerah berjalan, konflik kepemimpinan Talang Mamak sulit diresolusi, mereka saat ini saling curiga.
Pendidikan
Sebagian besar penduduk Talang Mamak buta huruf yang disebabkan oleh berbagai faktor dan kendala. Di dalam taman nasional, wilayahnya tidak terjangkau, sarana prasarana tidak memungkinkan. Di luar taman seperti di Lintas Timur, sekolah baru ada akhir-akhir ini dan kurang diminati sebab pendidikan dirasa tidak dapat memecahkan masalah mereka di samping ekonomi yang subsistem. Di wilayah Tigabalai sebagian besar menolak pendidikan, karena anak-anak mereka yang bersekolah dan mengecap pendidikan akhirnya keluar dari kelompoknya.
Lingkungan dan Ekonomi
Tanah dan hutan bagi Suku Talang Mamak merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Sejak beratus-ratus tahun mereka hidup damai dan menyatu dengan alam. Mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan dan melakukan perladangan berpindah. Dari dulu mereka berperan dalam penyediaan permintaan pasar dunia. Sejak awal abad ke-19 pencarian hasil hutan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap hasil hutan seperti jernang, jelutung, balam merah/putih, gaharu, rotan. Tetapi abad ke-20 hasil hutan di pasaran lesu atau tidak menentu, namun ada alternatif ekonomi lain yaitu mengadaptasikan perladangan berpindah dengan penanaman karet. Penanaman karet tentunya menjadikan mereka lebih menetap dan sekaligus sebagai alat untuk mempertahankan lahan dan hutannya.
Mereka mulai terusik dan diporakporandakan oleh kehadiran HPH, penempatan transmigrasi, pembabatan hutan oleh perusahaan dan sisanya dikuasai oleh migran. Kini sebagian besar hutan alam mereka tinggal hamparan kelapa sawit yang merupakan milik pihak lain. Penyempitan lingkungan Talang Mamak berdampak pada sulitnya melakukan sistem perladangan beringsut dengan baik dan benar dan harus beradaptasi, bagi yang tidak mampu beradaptasi kehidupannya akan terancam. Oleh sebab itu, sekelompok suku Talang Mamak yang di Tigabalai di bawah kepemimpinan Patih Laman gigih mempertahankan hutannya.
Demi memperjuangkan hutan adat, ia menentang dan menolak segala pembangunan dan perusahaan serta rela mati mempertahankan hutan. Kegigihan dan perjuangan “orang tua si buta huruf ini” diusulkan menjadi nominasi dan memenangkan penghargaan International “WWF International Award for Conservation Merit 1999″ dari tingkat grass root. Beliau juga mengharumkan nama Riau dan Indonesia di bidang konservasi yang diterimanya di Kinabalu Malaysia bersama dua pemenang lainnya dari Malaysia dan India. Pada tahun 2003, Patih Laman mendapatkan penghargaan KALPATARU dari Presiden Republik Indonesia.

Masyarakat Talang Mamak Dalam Taman Nasional

Suku Talang Mamak yang ada di dalam taman nasional secara tradisional masuk dalam kepemimpinan Sembilan Batang Gangsal Sepuluh Jan Denalah, Denalah Pasak Melintang. Sekitar seratus tahun yang lalu penduduk di wilayah ini masih Talang Mamak, namun dengan masuknya Islam, ada tiga dusun yang penduduknya sudah Melayu, mengalih atau menjadi langkah baru.
Pada tahun 1999 jumlah penduduk di dalam TNBT sebanyak 181 keluarga atau 844 orang. Di mana Talang Mamak berjumlah 97 keluarga atau 523 orang. Sedangkan Suku Melayu sebanyak 64 keluarga atau 321 orang.
Masyarakat Talang Mamak dan Melayu tradisional tersebut berada di dalam TNBT sepanjang Sungai Gangsal. Ada 8 dusun yang mereka tempati, di wilayah Riau 7 dusun yaitu Tanah Datar, Dusun Tua, Suit, Sadan, Air Bomban, Nunusan dan Siamang Desa Rantau Langsat. Sedangkan satu dusun lagi di wilayah Jambi yaitu Semerantihan desa Suo-suo. Kelompok yang memecah dari Dusun Tua karena konflik dan ketersediaan sumber daya.
Ada 3 dusun dihuni Suku Melayu yaitu Dusun Sadan, Air Bomban dan Nunusan selebihnya dihuni Suku Talang Mamak.
Pertambahan penduduk di dalam TNBT stagnan karena antara natalitas dan fertilitas umumnya seimbang. Sistem kesehatan masih tradisional, penyembuhan penyakit masih secara tradisional dengan menggunakan dedaunan, akar-akaran,pohon-pohon dan buah pohon dan selalu menghubungkannya dengan sistem kosmologi.
Secara budaya Masyarakat Talang Mamak di dalam TNBT sedikit berbeda dengan di Tigabalai-Pusat Kebudayaan Talang Mamak, mereka tidak melakukan tradisi mengilir dan menyembah raja, sistem kebatinan juga mulai luntur, umumnya mereka otonom menjalankan aktivitas dan menyelesaikan persoalan berat secara formal melalui kepala desa. Namun umumnya mereka masih animis dan sebagian kecil sudah menjadi katolik sinkritis yang berada di Dusun Siamang.
keluargatm1
Mereka mengenal banyak tentang obat-obatan tradisional. Menurut ekspedisi Biota Medika (1998) bahwa Suku Talang Mamak memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan 22 jenis cendawan obat. Sedangkan Suku Melayu memanfaatkan 182 jenis tumbuhan obat untuk 45 jenis penyakit dan 8 jenis cendawan. Selain itu Masyarakat Talang Mamak juga memiliki pengetahuan etnobotani. Mengenal berbagai jenis tumbuhan dan juga satwa.
Mata pencarian utama mereka adalah berladang berpindah dengan integrasi penanaman karet, di sela-sela berladang mereka mencari hasil hutan seperti jernang, rotan, labi-labi. Untuk memenuhi kebutuhan protein mereka berburu ke hutan.
Interaksi
Suku Talang Mamak di dalam TNBT sangat sopan, menghargai orang luar yang datang kepada mereka. Pada umumnya mereka jujur dan tidak mau mengganggu orang lain, daripada konflik lebih baik menghindar dan pergi ke hutan merupakan sifat dasar mereka. Jangan sekali-kali menggurui karena mereka adalah guru yang paling baik dalam hal etnobotani, etnozoologi, budaya dan sistem pertanian.
foto suku talang mamak


INDRAGIRI HULU, RIAU, 20/1 - SUKU TALANG MAMAK. Sejumlah anak suku Talang Mamakbermain di sekitar rumah adat di kecamatan Rakit Kulim, Indragiri Hulu, Riau, Rabu, (19/1). Masyarakat adat Talang Mamak merupakan suku asli Indragiri Hulu dengan sebutan "Suku Tuha" yang berarti suku pertama, sampai kini suku tersebut masih mempertahankan hukum adat serta tinggal di hutan adat. FOTO ANTARA/Fachrozi Amri/Koz/Spt/11.
 
 Peta Penyebaran Suku Talang Mamak

Banyaklah belajar dari mereka

Dalam pemberian bantuan jangan ada kesan simbolik meremehkan martabat dan jati diri mereka, misalnya memberi bantuan baju bekas, ini bermakna martabat dan status sosial mereka lebih rendah dari kita dan kain bekaslah yang pantas buat mereka. Berikan sesuatu yang bermakna bagi hidup mereka dan lingkungan seperti biji buah-buahan, mungkin buku dan pensil atau apa yang mereka inginkan. Bila ingin mendokumentasikan sesuatu sebaiknya harus permisi karena ada hal-hal sakral.
Sumber: http://www.bukit30.org/