| Mera Naam Joker: kisah Inspiratif
Tampilkan postingan dengan label kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

Kisah Inspiratif Dua Orang Pemuda



Sebut saja Udin dan Amir. Kedua pemudaini tumbuh seperti anak-anak seusianya. Dalam hal semangat, keduanya hampir memiliki kesamaan yaitu sama-sama mempunyai hasrat ingin sukses. Namun mereka mempunyai cara-cara yang berbeda dalam meraih suksesnya.

Ketika dalam belajar disebutkan bahwahanya orang yang bekerja keraslah yang akan meraih kesuksesan hidup di duniamaka keduanya menyimpan motto tersebut dalam memori dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Udin dan Amir mencoba menerapkan konsep kerja keras nya itu. Kedua pemuda ini mulai mengawali perjalanan hidupnya dengan bekerja menjadi karyawan seorang pengrajin besi. Keduanya bekerja di tempat yang berbeda-beda mengingat bos nya memiliki banyak cabang. Upahnya perhari sesuai dengan besi yang berhasil ia tempa menjadi sebuah barang seperti pisau, golok, atau cangkul.

Udin sangat percaya bahwa hanya dengan bekerja keraslah ia akan sukses dan mendapatkan banyak uang. Oleh karena itu ia bekerja dengan lebih giat lagi. Jika orang lain bekerja 8 jam ia memilih dikasih tambahan waktu 1 jam. Jika orang lain perhari berhasil membuat 10 benda besi maka Udin membuat 20. Bahkan tak jarang ia memilih kerja lembur demi mendapatkan upah lebih. Dia sangat percaya hasil kerja kerasnya akan sesuai dengan yang akan ia dapatkan.

Sementara di tempat yang berbeda, Amir justru melakukan hal yang bertolak belakang dengan Udin. Ia lebih memilih bekerja setengah hari tanpa meminta tambahan waktu dalam bekerja agar mendapat hasil yang banyak. Itu juga ia lakukan pada shift malam dimana ia mulai bekerja dari jam 5 sore sampai selesai pada pukul 02.00 pagi.

Lantas apa yang Amir lakukan pada siang harinya? Alih-alih bekerja ia lebih memilih untuk belajar mendalami tehnik-tehnik membuat peralatan dengan bahan baku besi. Ia mengikuti sebuah pelatihan dengan biaya hasil kerja nya menjadi karyawan. Selain itu, ia mengisi waktu dengan membaca buku dan melakukan hal-hal produktif lainnya seperti membuka pembelian besi bekas di depan rumah untuk kemudian ia jual kepada bosnya.

Udin tidak tahu apa-apa tentang Amir karena lokasi yang cukup jauh dan kerjaannya yang selalu sibuk. Ketika di minta waktu untuk bertemu pun dengan sombong nya Udin menjawab, "Maaf ya mir saya sibuk, nanti saja kalau ada waktu". Dari segi penghasilan, Udin memang lebih banyak daripada Amir mengingat kerjaannya yang sering lembur dan semua uangnya ia tabung sedangkan Amir menyisihkan gajinya untuk membayar pelatihan dan membeli buku. Sisanya cukup buat makan sehari-hari dan menabung secukupnya.

Sudah 3 bulan lamanya, Udin sudah membeli sebuah mobil (walaupun kredit) sementara Amir, motor pun masih seperti dulu. Dengan bangga Udin berkunjung kepada temannya dengan mengendarai mobil barunya sementara Amir hanya bisa tersenyum dan bersyukur temannya bisa membeli sebuah mobil. Amir percaya bahwa suatu saat nanti ia lebih bisa mendapatkan apa yang sudah di dapat oleh Udin.

10 bulan berlalu, Udin merasa letih dalam bekerja. Namun apa daya ia harus melakukan kerjaannya yang sibuk itu demi membayar tagihan mobilnya. Sementara Udin sudah menguasai ilmu-ilmu dalam membuat benda-benda dari besi, mesin produksi yang digunakan, serta pemasarannya. Udin mempunyai banyak teman dari pergulannya di banyak pelatihan.

Setahun berlalu, Amir sudah membuat pabrik sendiri dan memiliki banyak karyawan sementara Udin masih bekerja menjadi seorang karyawan dengan tanggungan kreditan yang membuatnya terus menerus bekerja keras. Kini keadaannya terbalik Amir justru jauh lebih baik dari apa yang di dapatkan oleh Udin. Dia memiliki 5 mobil dan beberapa aset berupa rumah mewah.

Pesan Moral :
"Kerja keras saja belum cukup membuat kita sukses melainkan harus di iringi sebuah kemahiran/ilmu yaitu kerja cerdas."

Sabtu, 30 Maret 2013

Kisah Pemuda Shaleh Yang Mempunyai Orang Tua Babi "Renungan"



Sebuah kisah inspiratif dari seorang pemuda yang soleh pada zaman nabi Musa AS yang berbakti kepada kedua orang tuanya

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang bisa berbicara dengan Allah SWT setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan berbicara dengan Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah keistimewaan Nabi Musa yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. “Ya Allah,
siapakah orang di surga nanti yang akan bersama denganku?”.
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mencari tempat itu.
Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya Nabi Musa sampai ke tempat yang dimaksud.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk, beliau berhasil bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam. Beberapa saat kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dirawatnya dengan baik. Nabi Musa terkejut melihatnya. “Apa yang terjadi?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk dan dicium kemudian diantar kembali ke dalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa seekor babi jantan yang lebih besar.

Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta dicium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudian diantar kembali ke dalam kamar.

Selesai itu barulah dia melayani Nabi Musa. “Wahai saudara! Apa agamamu?”. “Aku agama Tauhid”, jawab pemuda itu yaitu agama Islam. “Terus, mengapa kamu memelihara babi? Kita tidak boleh berbuat itu.” Kata Nabi Musa.

“Wahai tuan hamba”, kata pemuda itu. “Sebenarnya kedua babi itu adalah kedua orang tuaku. Karena mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah mengubah wajah mereka menjadi babi yang buruk rupa. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak.

Setiap hari aku berbakti kepada kedua orang tuaku seperti yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun wajah mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.”, sambungnya.

“Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampuni. Aku memohon supaya Allah mengembalikan wajah mereka menjadi manusia yang sebenarnya, tetapi Allah masih belum mengabulkannya.”, tambah pemuda itu lagi.

Maka seketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. ‘Wahai Musa, inilah orang yang akan ber di Surga nanti, karena dia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Meskipun orang tuanya sudah berwajah buruk menjadi babi, dia tetap berbakti. Oleh karena itu Kami naikkan  maqamnya sebagai anak shaleh disisi Kami.”

Allah berfirman lagi yang artinya : “Karena dia berada di maqam anak yang shaleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua orang tuanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga.”

Itu berkat anak yang shaleh. Doa anak yang shaleh dapat menebus dosa orang tuanya yang awal mulanya akan dimasukkan ke dalam neraka akhirnya dipindahkan ke surga. Ini adalah syarat berbakti kepada orang tuanya. Walaupun wajah ibu dan ayahnya seperti babi. Mudah-mudahan orang tua kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Seburuk apa pun kedua orang tua kita itu bukan urusan kita, urusan kita adalah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.

Sebanyak apa pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita adalah meminta ampun kepada Allah SWT supaya kedua orang tua kita diampuni Allah SWT.
Doa anak yang shaleh akan membantu kedua orang tua untuk mendapatkan tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para orang tua di alam kubur.

Arti sayang seorang anak kepada ibu dan ayahnya bukan melalui uang, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibu ayah adalah dengan doa supaya kedua ibu ayah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah.

Kisah Cinta Seorang Ayah Bisu Kepada Anaknya


Sebuah kisah yang mungkin dapat sejenak mengingatkan kita akan besarnya cinta orang tua kepada anaknya, walaupun mungkin kita sebagai anak sering lupa dengan keadaan orang tua kita sekarang yang sejak dahulu telah mengorbankan segalanya, untuk membuat kita selalu tersenyum dan bahagia.

Kisah inspiratif ini dibuat oleh sebuah perusahaan asuransi di Thailand. Berikut ini videonya, semoga bisa membuat kita selalu ingat dengan kedua orang tua yang selalu mencintai kita selamanya.



Sebuah Renungan Bagi Kita Semua

Aku mempunyai pasangan hidup…
Saat senang aku cari pasanganku
Saat sedih aku cari orang tua
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku
Saat gagal aku ceritakan pada bapak
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku
Saat sedih aku peluk erat ibuku
Saat liburan aku bawa pasanganku
Saat aku sibuk, anak kuantar ke rumah bapak
Saat sambut valentine, selalu beri hadiah pada pasangan.
Saat sambut hari ibu, aku cuma ucapkan “Selamat Hari ibu”
Selalu aku ingat pasanganku
Selalu ibu yang ingat aku
Setiap saat aku akan telpon pasanganku
Kalau inget aku akan telpon orang tuaku
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibu

Renungkan :

“Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja…
bolehkah kau kirim uang untuk orang tuamu?
Ibu tdk mnta banyak, lima puluh ribu sebulan pun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya . . .
Tapi kalau mereka sudah tiada . . .
Papa . . Mama . .
Aku Rindu . . . . Sangat Rindu . . .

BOCAH Yang Merawat Dan Menjaga IBU nya Yang LUMPUH


apa KOMENTAR KAMU TENTANG FOTO ini
kisah si BOCAH yang merawat dan menjaga IBU nya yang LUMPUH




Kamis, 28 Maret 2013

Kisah Iblis dan Petani



iblis dan petani


Ini hanyalah sebuah cerita fiksi belaka dari seorang penulis dongeng dari Rusia yang bernama Leo Tolstoy. Dalam kumpulan buku dongengnya “Ivan yang bodoh” terdapat sebuah cerita menarik yang mungkin dapat kita jadikan sebagai sebuah pelajaran berharga bagi kehidupan kita, cerita tentang manusia dan keserakahan, simak ceritanya sebagai berikut.

Ada iblis melihat seorang petani setiap hari bekerja dengan keras di lahan pertaniannya. Hasil yang didapatnya sangat minim. Namun petani itu tetap gembira, sangat bersyukur dan merasa puas. Iblis itu lalu mengutus iblis kecil untuk mengganggu petani ini.

Iblis kecil ini membuat lahan petani menjadi sangat keras, sengaja untuk membuat petani melepaskan niatnya bertani. Namun petani ini tanpa mengeluh tetap mencangkul seharian tanpa henti. Melihat rencananya gagal setan kecil ini hanya bisa meraba-raba hidungnya lalu meninggalkan petani ini sendirian.

Iblis kecil kedua berpikir, membuat dia lebih susah pasti tidak akan berhasil lagi, lebih bagus saya mengambil semua miliknya, lalu dia mengambil makan siang petani ini yaitu roti dan air minumnya. Dia pikir sekali ini petani pasti akan panik dan memaki.

Si petani ketika berhenti bekerja lalu pergi kebawah pohon untuk beristirahat, dia menyadari makan siang dan airnya telah hilang, lalu dia berkata, “Tidak tahu siapa yang lebih malang dari nasib saya yang membutuhkan roti dan air minum saya? Jika makanan ini memang bisa mengenyangkan dia, itu adalah hal yang baik.” Iblis kecil kedua inipun gagal lagi, lalu meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong.

Iblis tua merasa heran, apakah tidak ada hal yang bisa membuat petani ini menjadi jahat? Pada saat ini iblis kecil ketiga muncul dan berkata kepada iblis tua, “Saya ada akal yang bisa membuat petani ini menjadi jahat.”

Iblis kecil ini pergi menemui petani dan berteman dengan dia. Petani itu sangat gembira bisa berteman dengannya. Karena iblis kecil ini mempunyai kemampuan untuk memprediksi, ia mengatakan kepada petani tahun depan akan terjadi kekeringan, dia mengajar petani menanam padinya di sawah, petani mendengar nasehatnya melakukan hal itu.

Benar saja, setahun kemudian terjadi kekeringan semua orang gagal panen hanya petani ini yang berhasil memanen, oleh sebab itu dia menjadi kaya.

Iblis kecil juga mengajar petani menjual berasnya diganti dengan anggur, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Perlahan-lahan petani mulai tidak bertani lagi, dia hanya mengandalkan nasehat iblis kecil berdagang, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar tanpa bekerja keras.

Iblis kecil berkata kepada iblis tua, “Engkau lihat!, sekarang saya akan menunjukkan prestasi saya!” Iblis tua melihat hal ini dengan memuji berkata kepada iblis kecil “Waduh! Engkau sangat hebat! Bagaimana caranya engkau dapat melakukan semua hal itu?”

Iblis kecil berkata, “Saya hanya membiarkan dia memiliki lebih banyak dari yang dibutuhkannya, dengan demikian dapat membangkitkan sifat keserakahannya.”

Makna cerita diatas adalah, sifat manusia sangat rapuh, hidup dalam masyarakat yang telah tercemar polusi ini. Hanya insan yang benar-benar memahami makna hidup ini yang tidak akan tercemar, tersesat, tidak akan panik, tidak akan kacau dan tidak menjadi buta.

Sabtu, 29 Desember 2012

Kisah Bahagia: 16 Tahun Seorang Nenek Hidup Tanpa Uang


Kisah Bahagia: 16 Tahun Seorang Nenek Hidup Tanpa Uang  – Ada pepatah mengatakan uang bukanlah segalanya, sepertinya pernyataan tersebut sangat sesuai dengan kisah hidup yang dialami Heidemarie Schwermer seorang nenek di Jerman. Jika orang lain menyatakan bahagia ketika memiliki banyak uang baik itu cash atau di rekening sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi Heidemarie.
Wanita ini sebenarnya lahir di rusia. Ia adalah putri dari seorang pengusaha yang termasuk sukses. Mereka bahkan mampu membiayai pengasuh anak dan tukang kebun.
Namun keadaan berubah drastis saat Perang Dunia II melanda Eropa tahun 1940-an, Schwermer dan keluarganya mendadak bangkrut dan jatuh miskin, bahkan mereka tidak memiliki uang sama sekali. Hal yang paling tragis yaitu mereka pun harus terusir dari negerinya sendiri. Akhirnya mereka sekeluarga pun pindah ke Jerman.
Heidemarie Schwermer
Dalam beberapa tahun di Jerman ayah Schwermer akhirnya bisa bangkit dan mengulangi masa kejayanya. Uang kembali datang dari perusahaan rokok yang ia dirikan. Kemudian keluarga mereka kembali merasakan manis dan indahnya hidup.
Namun kini,  Heidemarie Schwermer menentang kehidupan masa lalunya yang makmur bergelimang harta.
“Kami kaya tapi pada akhirnya tak punya apa-apa,” kata dia, yang dikutip oleh Daily Mail. “Kami menjadi kaya lagi dan mati-matian mempertahankannya. Aku selalu merasa dipaksa untuk menilai, apakah kami kaya atau miskin.”
Schwermer saat ini sudah berusia 69 tahun, awalnya dia bekerja sebagai guru dan terapis kejiwaan dengan gaji lumayan bagus. Namun, bukanya bahagia dengan penghasilannya yang banyak tersebut, tetapi ia malah merindukan masa-masa kecilnya yang penuh perjuangan.
Akibat hal tersebut, ia pun menjadi terobsesi untuk menemukan cara baru hidup tanpa bergantung pada uang, baik lembaran kertas maupun kepingan logam. Mulai pada 1994, ia memulainya dengan membentuk kelompok pertukaran. Namanya “Give and Take Central” atau pusat memberi dan menerima.
Di perkumpulan itu, orang-orang saling menukar layanan sederhana seperti mengasuh bayi atau membersihkan rumah dengan sejumlah barang berujud. Dan Schwermer saat itu menemukan, ia lebih sedikit membutuhkan uang.
Ketika seorang rekan meminta ibu tunggal dengan dua anak itu mengurus rumahnya, Schwermer memutuskan untuk mengambil peluang itu, dan hidup tanpa uang selama setahun penuh.
Ia menjual segala miliknya, termasuk apartemen , menyisakan barang-barang kecil dan benar-benar diperlukan yang ia kemas dalam koper miliknya.
Apa ia rencanakan hanya untuk 12 bulan tersebut ternyata bertahan hingga 16 tahun. “Awalnya, aku hanya ingin bereksperimen selama setahun. Tapi aku justru menemukan hidup baru,” kata dia. “Dan, aku tak ingin kembali ke kehidupan lamaku.”
Awalnya, Schwermer tinggal bersama seorang teman lama. Namun, saat gaya hidupnya menyebar dari mulut ke mulut, ia mulai berceramah soal misinya. Ia laris menjadi pembicara keliling.
Dalam pekerjaan barunya itu, ia hanya menerima tiket kereta api dari para pengundangnya, dan menolak setiap upaya lain untuk membayarnya. “Kebanyakan orang di usiaku memilih untuk duduk manis di kebunnya menikmati masa pensiun,” kata dia. “Tapi aku senang jalan-jalan.”
Ia juga melakukan pekerjaan di sekitar rumah tempatnya menginap, seperti berkebun, atau melap jendela, untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam dokumenter soal kehidupannya, yang bertajuk “Living Without Money”, ia ditampilkan sedang mengumpulkan bahan makanan sisa yang tak terjual di pasar.
Schwermer juga sering menerima pakaian dari teman-temannya, pemberian yang ia sebut sebagai “keajaiban”, alih-alih sumbangan. “Aku melihat banyak keajaiban dalam hidupku sehari-hari. Saat aku berpikir soal makanan atau barang lain, tiba-tiba aku menemukannya di jalan atau orang datang dan memberikannya padaku,” kata dia.
Ia juga kerap menyumbangkan barang yang tak termuat di tas kecilnya — yang ia bawa dari rumah ke rumah yang menerimanya menginap.
Meski tak punya rumah dan uang sama sekali, jangan sebut Schwermer gelandangan. “Anda tak bisa membandingkanku dengan tuna wisma. Mereka tidak disukai dan diundang menginap orang lain.”
Ada banyak rumah yang membuka pintu lebar-lebar untuknya, namun ia tak pernah lama tinggal apalagi menetap. Jadwalnya tiap minggu padat berkeliling Eropa. “Aku pergi dari rumah ke rumah berbagi filosofi saya.”
Bagaimana dengan pendapat keluarganya?
Tentu saja anak-anak dan teman-temannya awalnya keberatan dan menentang. Namun, pada akhirnya mereka terbiasa dengan gayanya yang datang dan pergi. Ia hanya sempat bertemu dua anak dan tiga cucunya sesekali dalam setahun. “Kini mereka bangga dengan apa yang kulakukan. Itu sudah cukup.”
Schwermer memutuskan terus berusaha bertahan dengan pilihannya itu. Sebuah keputusan yang membuatnya merasa lebih berarti, tanpa takut kehilangan, tanpa rasa posesif terhadap materi.
Kisah hidup bahagia ini begitu inspiratif dan penuh dengan makna filosofis ditengah kehidupan kita yang semakin hari semakin bergantung pada uang. Hidup adalah pilihan dan apapun pilihan anda itulah jalan yang anda pilih.

Tukang Sapu Jadi Milyarder… (Kisah Nyata Di Mekkah Musim Haji 2012)



Musim haji tahun 2012 baru saja berlalu. Seperti biasanya, setiap kali musim haji selalu saja memunculkan kisah-kisah menakjubkan. Selalu ada cerita yang mengharukan, penuh hikmah dan menjadi pelajaran bagi umat manusia.

Di antara kisah nyata yang terjadi di musim haji tahun 2012 ini adalah kisah seorang tukang sapu di kota Mekkah yang mendadak kaya menjadi seorang milyuner. Bagaimana ceritanya? Simak kisah nyatanya seperti yang diangkat di koran al-Sabaq terbiatan Saudi Arabia tanggal 17 Dzhuhjjah lalu (02/11/2012). (Kisah ini sudah kami edit seperlunya tanpa mengurangi inti dan substansi cerita).


Syahdan, seorang pria bernama Marimir Husain Jihar tengah menyapu jalanan kota Mekkah yang penuh debu. Ia membersihkan jalanan kota suci ini dari kotoran dan sampah-sampah yang dibuang manusia atau yang diterbangkan angin sepanjang waktu.

Sudah 5 tahun, pekerja imigran asal Bangladesh itu melakoni pekerjaan bersahaja tersebut, pekerjaan yang dipandang sebelah mata orang orang lain. Di Arab Saudi, orang Bangladehs sering disebut sebagai “Benggali”. Orang Indonesia pun memanggil mereka dengan sebutan demikian.

Rekan-rekan sekerja Marimir tidak pernah tahu asal-usul marimir, sebab ada ratusan ribu (atau mungkin jutaan) orang Benggali yang menjadi buruh kasar di negeri Haramain ini.

Sampai pada suatu hari di musim haji 2012. Ketika Marimir asyik menyapu jalanan di sekitar wilayah Tan’im, tempat di mana orang-orang akan memulai (miqat) ihram untuk Umrah, suatu kejadian tak terduga terjadi.

Seorang pria tua berteriak dari seberang jalan memanggil nama Marimir. Pria itu berpakaian Ihram, terlihat hendak melaksanakan ihram untuk Umrah. Dari postur tubuhnya, pria tua itu jelas berkebangsaan Bangladeh.

“Marimir…! Marimir…! Marimir….!” Teriak pria tua berkali-kali dari seberang jalan. Namun karena banyaknya manusia dan lalu linta yang sibuk, Marimir tidak mendengarnya.

“Marimir…! Marimir…! Marimir…!” Pria tua itu kembali berteriak. Kali ini ia berlari ke arah Marimir menghadang jalan.

Aksi pria tua itu mengundang perhatian banyak orang di Tan’im, termasuk dari rekan-rekan pria tua itu sendiri. Mereka heran, bagaimana ia mengenali seorang penyapu jalan di kota suci ini.

Tanpa peduli, ia terus berlari tanpa menghiraukan mobil-mobil yang melaju kencang. Orang-orang berteriak memperingatkannya, karena aksinya itu mengganggu lalu lintas.

“Marimir…!”. Ujar si pria tua tanpa henti.

Kali ini Marimir mendengar. Ia menoleh, dilhatnya seorang yang sudah tua berlari ke arahnya. Ia pun heran, dari mana orang itu mengetahui namanya.

Pria itu semakin mendekat. Dan semakin dekat. Ketika sudah jelas baginya siapa yang datang, ia pun terperangah. Alangkah kagetnya Marimir, ia seakan tak percaya apa yang dilihatnya.

Ternyata pria tua itu adalah abang kandungnya sendiri….

Dengan berurai air mata, si pria tua itu menghampiri Marimir yang penuh debu, lantas ia memeluk pemuda itu dengan erat sambil menangis.

Aksi jemaah haji tersebut mengundang perhatian banyak orang. Meski tidak mengerti, mereka mengabadikan momen penuh haru itu dengan kamera. Setelah itu, si pria tua bercerita kepada orang-orang yang mengitari mereka penuh keharuan.

Ia menceritakan bahwa tukang sapu itu adalah adik kandungnya sendiri, mereka adalah dua bersaudara yang sudah lebih 5 tahun tidak bertemu.

Kisah perpisahan mereka dimulai ketika orangtua mereka meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya. Ayah mereka meninggalkan harta warisan yang sangat banyak, mencapai 17 juta Riyal (sekitar Rp. 42,5 Milyar). Bagaimana tidak, keluarganya adalah keturunan bangsawan, dan salah satu kakek mereka adalah mantan menteri di Bangladesh.

Tapi saudara tuanya itu berbuat serakah. Ia tidak mau membagi harta peninggalan itu dengan adiknya. Beberapa kali si adik meminta pembagian warisan, tapi ia tidak mau. Bahkan, sang adik pernah dijebloskannya ke penjara karena menuntut haknya!

Karena putus asa, akhirnya sang adik pergi meninggalkan Bangladeh. Ia pun menjadi pekerja imigran di Arab Saudi. Hingga bertahun-tahun lamanya. 5 tahun terakhir, ia menjadi tukang sapu di Mekkah.

Selepas kepergian adiknya itu, saudara tuanya pun diserang penyakit kanker ganas.

“Ini hukuman Allah atas kezaliman saya…”. Kenang haji tua itu sambil menangis. Dan sejak itulah ia insyaf atas perbuatan serakahnya.

Bertahun-tahun pula lamanya, ia berusaha mencari jejak sang adik. Ia bertanya kepada kawan-kawan adiknya, tapi tak satu pun yang tahu. Ia pun sudah membuat sayembara, siapa yang mengetahui alamat adiknya akan diberi imbalan yang besar.

Namun kabar tak kunjung datang. Sang adik entah di mana rimbanya. Sementara penyakitnya semakin parah, hingga ia mengira umurnya takkan lama lagi.

Hingga datang musim haji tahun 2012. Ketika ia hendak pulang ke tanah air, ia pun melaksanakan umrah terlebih dahulu. Ia bersama rombongannya pun berangkat ke Tan’im, miqat di mana orang Mekkah memulai umrah.

Dan di sanalah keajaiban itu terjadi. Di tempat inilah Allah Swt mempertemukannya dengan adiknya yang selama ini ia cari. Dilihatnya seorang pria muda tengah menyapu jalanan, dan ternyata itu adalah saudara kandungnya.

Saat pertemuan itu, saudara tua itu meminta maaf kepada sang adik atas kezalimannya selama ini. Karena keserakahannya, sang adik hidup sengsara dan terlunta-lunta sebagai tukang sapu di negeri orang.

Ia pun mengajak adiknya pulang. Ia sudah membagi harta peninggalan orangtua mereka seadil-adilnya. Bagian untuk sang adik sudah ia sisihkan, dan akan ia berikan tanpa mengambilnya sedikitpun, jumlahnya milyaran rupiah ditambah properti yang sangat banyak.

Di tempat yang suci itu, sang adik memaafkan abangnya. Ia sama sekali tidak menaruh dendam. Bahkan dirinya merasa bahagia bisa tinggal di tanah suci ini. Di sini, ia menghabiskan waktu untuk bekerja dan menghafal al-Qur’an.

Kepada hadirin yang berkerumun di sekitar mereka, tukang sapu yang jadi milyuner itu mengatakan: “Sungguh ini merupakan pelajaran yang besar dalam hidup saya. Saya sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang teraniaya. Karena itu, saya berjanji tidak akan menganiaya siapa pun. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, dan diharamkannya kezaliman itu atas hamba-hambaNya”.

Kisah mengharukan itu menjadi buah bibir jemaah haji. Seorang penjual makanan cepat saji di kota Mekkah mengatakan kepada wartawan Sabg:

“Saya sering bersedekah makanan kepada tukang sapu itu, tanpa saya pernah tahu ternyata dia adalah seorang milyuner”.

sumber cerita : http://putramelayu.web.id/

SMS DATANG SETELAH 6 TAHUN MENINGGAL



Pada tahun ini, telah sampai kepadaku lebih dari 400 SMS berkenaan dengan datangnya bulan Ramadhan. SMS itu dari keluarga, kerabat, dan rekan, baik dari Saudi, negeri-negeri Arab, maupun negeri-negeri Islam lainnya, khususnya dari saudara-saudaraku para da’i di Indonesia. Mudah-mudahan Allah Ta'ala membalas mereka semua dengan kebaikan atas hubungan dan do’a mereka untukku pada bulan yang penuh berkah tersebut.
Hanya saja ada sebuah SMS yang mengejutkan dan menggoncangkan kesedihan, dan perasaanku. SMS itu sempat membuat pikiranku bimbang, yang kemudian membuat kedua mataku menangis. SMS itu berasal dari teman lama. Dia termasuk sebaik-baik teman yang aku bangga mengenalnya. Namun permasalahannya, temanku ini telah wafat enam tahun lalu karena sebuah kecelakaan mobil.

Aku terus menyimpan nomor HP-nya di HP-ku. Setiap kali aku putuskan untuk menghapus nomornya, jiwaku tidak terima. Maka akupun membiarkan nomor tersebut sebagai sebab do’aku untuknya agar diberi rahmat Allah Ta'ala setiap kali aku melihat namanya.

Tiba-tiba, pada suatu malam di bulan Ramadhan tahun ini -enam tahun sesudah wafatnya- sebuah SMS datang dari nomor yang sama miliknya. Begitu melihat nomor tersebut aku langsung terperanjat, campur perasaan aneh dan "takut"… serta perasaan-perasaan yang aku tidak bisa menjelaskannya untuk para pembaca yang budiman, hingga membuatku ragu untuk membukanya. Akan tetapi, karena penasaran maka pada akhirnya aku membuka dan mulai membaca SMS tersebut.

Di dalam SMS tersebut kudapati ucapan:

“Paman Mamduh yang mulia, saya Ahmad, putra saudara paman ‘Athiyah, saya menyimpan HP ayah hingga saya besar. Saya ucapkan selamat dan do’a keberkahan bagi setiap teman-teman ayah. Mudah-mudahan paman senantiasa dalam kebaikan sepanjang tahun. Bulan keberkahan atas kita dan atas paman, mudah-mudahan paman berada dalam kebaikan sepanjang tahun.”

Sungguh, kedua matakupun berlinangan air mata karena bocah kecil ini, ayahnya telah meninggal saat dia berusia 4 tahun, dan sekarang dia telah berusia 10 tahun. Bocah kecil ini telah mengajariku bagaimana seharusnya menyambung hubungan? Bagaimana cara berbuat baik? Dan bagaimana melanggengkan rasa cinta?

Bocah kecil ini membuat aku mengingat teman-teman pamanku yang telah merawatku. Akupun bergegas untuk pergi menjenguk mereka yang tersisa satu persatu, termasuk bocah kecil tersebut.

Temanku tersebut telah menikah dengan seorang wanita shalihah, yang kemudian melahirkan bocah laki-laki tersebut. Kemudian wanita tersebut mendidiknya dengan baik, menyimpan HP suami dan nomor teman-temannya hingga putranya besar, dan berkata kepada puteranya: “Sambunglah teman-teman ayahmu.”

Betapa mulianya istri tersebut, dan betapa baiknya anak tersebut. Aku memohon kepada Allah agar memberinya taufik, menjaga agama dan dunianya, mudah-mudahan Allah Ta'ala mengampuni kita semua dan orang-orang yang telah meninggal mendahului kita.

Dikisahkan bahwa seorang dari bani Salimah datang kepada Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa perbuatan birrul walidain yang harus saya lakukan setelah kedua orang tuaku meninggal dunia? Nabi bersabda:

« نَعَمْ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِيفَاءٌ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا »

"Benar: berdoa kepada keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, menjalankan wasiat-wasiatnya sepeninggalnya, dan memuliakan sahabat keduanya dan menyambung kerabat yang tidak disambung kecuali dengan keduanya." (HR. Ibnu Majah).

Sumber : Majalah Qiblati

Sabtu, 15 Desember 2012

Pemulung yang Berqurban 2 Kambing Dapat Bantuan, Dijanjikan Rumah & Pekerjaan Layak oleh Mensos




Mak Yati & Maman saat mendapat kunjungan dari Mensos(beritajakarta.com)
Mak Yati, perempuan tua, bersama suaminya, Maman, tak menyangka niat tulus berqurban dua kambing mendapat perhatian banyak pihak.
Bahkan cerita pemulung yang menabung selama tiga tahun untuk berqurban dua ekor kambing saat Idul Adha itu sampai juga ke telinga Menteri Sosial Dr Salim Segaf Al Djufri.
Begitu mendengar kisah tersebut kemarin, Salim Segaf langsung memerintahkan stafnya untuk mencari tahu tempat tinggal Mak Yati.
Tak cukup hanya dengar laporan, Salim Segaf langsung mengunjungi Mak Yati dan Maman. Akhirnya, Ahad (28/10/2012) kemarin, Menteri asal PKS itu berhasil bertemu pasangan pemulung ini, di gubuk, dekat tempat sampah,  di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Gubuk berukuran 3×4 m itu, tentu makin terasa sempit saat dimasuki sejumlah orang, termasuk wartawan. Tampak ada sebuah pesawat televisi rongsok yang sudah rusak. Kata Mak Yati, pesawat televisi itu sudah lama tak hidup.
Saat mengobrol dengan Salim Segaf, Mak Yati menangis. Mensos pun ikut terharu dan larut. Salim  menyatakan Mak Yati sebagai lambang perbaikan sosial. Karena, di saat kondisinya yang sulit, dia masih bisa membantu orang lain lewat qurban.
“Pas ngobrol, Mak Yati menangis, Pak Menteri pun ikut hanyut, terharu” ujar Kepala Humas Kemensos Sapto Waluyo.
Pada kesempatan itu Mensos memberikan bantuan uang tunai kepada Mak Yati yang didampingi suaminya, Maman, sebesar Rp 5 juta.  Uang ini untuk modal usaha. Mak Yati bisa menggunakan uang tersebut untuk modal awal membuat usaha baru, tidak lagi menjadi pemulung.
“Apalagi,” kata Sapto, “beliau kan sudah cukup tua, dan pekerjaan (pemulung, red) ini bisa membahayakan juga.”
(foto: liputan6.com)
Mensos Salim Segaf menyatakan, sifat Mak Yati dan Maman ini harus jadi teladan. “Sifat kesetiakawanan sosial dan tolong menolong ada pada dirinya. Kalau banyak masyarakat yang seperti ini, tidak ada lagi anak terlantar ataupun warga yang tinggal di kolong jembatan,” ujar Salim.
Atas pengorbanannya yang tulus itu, Mensos akan menghadiahi Mak Yati dan Maman sebuah rumah dan tanah serta pekerjaan yang layak. Mak Yati dan Maman pun bersedia kalau harus pulang kampung dan hidup dengan pekerjaan yang layak di sana.
Untuk itu, kata Salim, pihaknya telah mengirim tim untuk mensurvei tempat kelahiran Yati di Pasuruan, Jawa Timur.
“Saya kirim tim ke sana untuk mencarikan tanah di daerah asal, agar yang bersangkutan memiliki tempat tinggal. Kami juga mencari cara agar yang bersangkutan bisa memiliki pekerjaan yang layak untuk hidup yang lebih baik,” ungkap Salim.
Mak Yati mengucapkan terimakasihnya atas kepedulian itu. Tapi, dia mengatakan, sejak awal dirinya tidak mengharapkan hadiah apapun karena sedari awal sudah niat dan ikhlas untuk melaksanakan qurban.
“Saya ingin sekali saja, seumur hidup bisa memberikan daging qurban. Di dada rasanya tebal sekali, ada kepuasaan. Saya harap, semoga ini bukan yang terakhir,” tuturnya.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Menteri yang mau datang ke gubuk saya, sebenarnya saya tidak mengharapkan apa-apa,” ujar Yati lagi.
Mak Yati dan suaminya Maman, adalah pasangan pemulung yang sudah 40 tahun hidup di Jakarta. Hari-hari mereka mengumpulkan botol dan barang bekas lainnya di sekitar wilayah Tebet. Pendapatan mereka jika digabung hanya sekitar Rp 25 ribu per hari.
(liputan6.com)
Tekad kuatnya untuk berqurban membuahkan hasil. Dengan susah payah mereka berhasil mengumpulkan uang Rp 3 juta selama 3 tahun. Uang Rp 3 juta itu dibelikan 2 ekor kambing besar-besar. (Baca: Pengurus Masjid Menangis Terima 2 Hewan Qurban dari Pemulung).
Ketika menerima dua qurban kambing itu, pengurus masjid terharu  sehingga tak kuasa menahan tangis.
Saat mengumumkan penerimaan qurban, pengurus Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa dua kambing qurban Mak Yati dan Maman adalah yang paling besar di antara kambing qurban lainnya.
Ketika mendengar pengumuman ada pemulung yang berqurban 2 ekor kambing, para jamaah Idul Adha Masjid Al Ittihad banyak yang meneteskan air mata. Bahkan suara sang imam pun dikabarkan bergetar menahan haru saat mengimami shalat Id. (isa)

Senin, 10 Desember 2012

SUDAHKAH KITA MENJADI ORANG BAHAGIA HARI INI?




Saudaraku..
Abu Darda’ ra pernah berkata: ”Allah mengaruniakan ilmu bagi orang-orang yang beruntung, dan Dia mengharamkan ilmu bagi mereka yang sengsara.”
Saudaraku..
Abu Darda’ ra memberi batasan yang jelas perihal orang-orang yang akan berbahagia di akherat. Demikian pula sebaliknya ia memberi ukuran yang terang mengenai orang yang akan sengsara di sana.
Dimudahkannya menggali ilmu pengetahuan. Dilancarkan proses belajar mengajar. Diberikan pemahaman dan daya serap yang tinggi terhadap ilmu. Mencintai orang yang berilmu dan yang meniti jalan ilmu. Dibukanya kran-kran ilmu di sela-sela kesibukannya dalam kerja dan menggeluti rutinitas sehari-hari. Senang menularkan ilmu kepada orang-orang di sekelilingnya. Tak patah arang saat gagal mendaki puncak ilmu. Lebih mencintai ilmu daripada harta benda dan yang senada dengan itu.
Jika yang demikian itu ada pada diri kita, berarti kita calon menjadi orang yang bahagia di akherat sana. Sudah barang tentu setelah mengecap kebahagiaan di sini. Di dunia ini.
Saudaraku..
Sebaliknya, merupakan tanda bahwa kita akan sengsara di alam keabadian dan kehidupan yang kekal di akherat sana, jika kita terhalangi meraih ilmu pengetahuan. Membenci orang-orang yang menghadiri majlis ilmu. Memusuhi mereka yang menularkan ilmu kepada orang lain. Gerah duduk di taman ilmu. Menghalang-halangi orang lain meraih pengetahuan agama dan seterusnya.
Saudaraku..
Mari mulai hari ini kita merenung sejenak. Mana yang lebih menguras pikiran kita, harta benda dan kenikmatan dunia yang ingin kita kecap? Ataukah ilmu pengetahuan yang kita kejar?.
Mana yang lebih dominan menyapa kita setiap hari. Ilmu pengetahuan ataukah godaan dunia?.
Ketika kita mengunjungi dunia maya. Apa yang terbersit di hati kita? Apakah kita ingin menjadikannya sebagai kunci ilmu bagi kita. Atau justru kita ingin berkeliling dunia dengannya?.
Jawabannya ada di hati kita. Apakah kita termasuk orang yang akan berbahagia di sana atau sebaliknya, kita menjadi orang yang merana yang tak ada ujungnya.
Ya Rabb, bukakanlah pintu-pintu ilmu pengetahuan untuk kami dan jangan Engkau halangi kami dari karunia-Mu. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

NIAT PENGEN NASIB JADI LEBIH BAIK ?




Ust. Yusuf Mansyur cukup terkenal di kalangan kita sbg Ust yg konsisten mengusung materi “Sedekah” sbg Solusi dari berbagai permasalahan dan problematika Hidup.
Mendengar dan menyimak ceramah Beliau yg begitu luar biasa rasanya hidup ini jadi tetap semangat dan optimis menghadapi masa depan yg bagimanapun suramnya menurut perspektif kita sbg manusia biasa.
Pagi itu Beliau bercerita tentang seorang penambal Ban.
Suatu ketika di tahun 2008, Beliau lagi pengen menambal ban yg bocor dan akhirnya Beliau ketemu seorang Pemuda tukang tambal ban yg ternyata membawa kenangan yg cukup mendalam di hati Beliau.
Ceritanya Ust. Yusuf Mansyur sangat tertarik ketika melihat wajah Pemuda tsb yg terlihat cukup rapi utk ukuran seorang Tukang tambal ban. Akhirnya Beliau bertanya tentang latar belakang Pemuda tsb dan ternyata Pemuda tsb memang berlatar pendidikan yg cukup tinggi yaitu Sarjana Akuntansi…
Wah….luar biasa pikir Beliau seorang sarjana mau menjadi tukang tambal ban……
“Nggak pp Pak Ustadz yg penting pekerjaan saya halal” demikian jawab Pemuda tsb.
Ketika ditanya Beliau, sdh berapa lama jadi Penambal ban ? …Nah disinilah menurut Ustadz Mansyur permasalahan yg cukup serius….ternyata Pemuda tsb lulus S1 tahun 2000 nganggur 6 tahun s/d 2006, dan sejak 2 tahun yg lau kerja sbg Tukang tambal sampai Thn 2008 ketika ketemu Ust. Yusuf Mansyur tsb.
Karena perihatin Beliau tanya berapa penghasilan per hari nya ? Ternyata di jawab Pemuda tsb rata2 Rp. 15 ribu per hari.
Akhirnya setelah selesai menambal ban, Pak Ustadz berpesan ” Anak muda, coba lakukan ini, baca Surah Alwaqiah tiap Pagi dan Sore dan sedekahkan pendapatan mu, Moga Insya Allah penghidupan mu akan berubah”….
Singkat cerita karena kepadatan jadwal beliau dalam berdakwah, Pak Ustadz sdh tdk ingat lagi peristiwa tsb, tiba-2 di bulan Juni 2009 , +/- 1,5 tahun kemudian, ada undangan pembukaan sebuah Franchise dengan total Investasi +/- Rp. 5 Milyar.
Pada awalnya Pak Ustadz sempat bingung siapa yg mengundang ?, setelah di teliti dan dicari informasi……. ternyata Pemuda Sang Penambal Ban itulah yg mengundang Beliau…….. Subhanallah.
Ketika Beliau ketemu langsung dgn si Pemuda dan ditanya gimana ceritanya bisa berubah demikian dahsyatnya…..
Dengan jawaban yg ringkas dan sederhana Pemuda tsb menjawab :
” Tidak ada strategi yg khusus Pak Ustadz, saya hanya menerapkan pesan Bpk 1,5 tahun yg lalu, yaitu rutin dan istiqomah baca Surah Alwaqiah setiap pagi dan sore/malam, serta rajin bersedekah, itu saja, tapi dampaknya usaha dan ikhtiar saya selalu dimudahkan hingga bisa seperti sekarang ini….”.
Subhanallah…..ternyata utk merubah nasib tdk susah, cukup yakini ayat-ayatNYA dan rajin2 lah bersedekah….
Yang lebih dahsyat adalah ketika Pak Ustadz nanya : ” Kamu tahu tidak maksud dan arti ayat2 yg ada dalam surah Alwaqiah tsb ?”
“Tidak Pak Ustadz, saya hanya tahu membacanya aja” Jawab Pemuda tsb.
“Oke, kalau arti Surah Alwaqiah aja, tahu nggak ? ” kejar Pak Ustadz.
Dengan polosnya Pemuda tsb menjawab ” Nggak tahu juga Pak Ustadz”
Subhanallah, Allahuakbar……..inilah luar biasanya Alquran, orang yang membaca dan meyakininya saja meskipun tdk tahu artinya sama sekali bisa merasakan dampak dan berkah yang luar biasa……..apalagi kalau kita juga membaca, dan mau mempelajari shg mengerti arti dan maksud yg kita baca…tentunya dampaknya akan sangat2 luar biasa….
So…mari saat ini juga kita budayakan baca Alquran setiap hari….Tiada hari tanpa Alquran….dan kita pupuk kebiasaan gemar bersedekah…Moga kita diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.
(Disadur dan diintisarikan dari Acara Wisata Hati by Ustadz Yusuf Mansyur, di ANTV, hari Selasa, tgl. 25 Sept 2012. Jam 05.00 wib )
Note : Acara Wisata Hati by Ustadz Yusuf Mansyur, dapat disaksikan setiap hari jam 05.00 wib pagi, di ANTV.

ANAK BOCAH MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR TIDAK MENJADIKANNYA ORANG YANG SOMBONG




Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabi bersabda, “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang wanita yang menyusui putranya. Lalu seorang laki-laki berkendara dan berpenampilan menawan melewatinya. Wanita itu berkata, ‘Ya Allah,
jadikanlah anakku seperti orang ini.’ Anak yang disusuinya itu meninggalkan susunya dan memandang laki-laki si pengendara dan berkata, ‘Ya Allah, janganlah Engkau menjadikanku sepertinya.’ Kemudian dia meneruskan mengisap susunya.” Abu Hurairah berkata,”Seolah-olah aku melihat Nabi mengisap jarinya.”
Selanjutnya seorang hamba wanita melewatinya. Ibu berkata, “Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya.” Anak itu meninggalkan susunya dan berkata, “Ya Allah, jadikan aku sepertinya.” Wanita itu bertanya, “Mengapa begitu?” Dia menjawab, “Pengendara itu adalah salah seorang yang sombong, sementara hamba sahaya wanita itu dituduh berzina dan mencuri, padahal dia tidak melakukannya.”
Nash hadis dalam riwayat Muslim, “Manakala seorang bayi sedang menyusu dari ibunya, seorang pengendara dengan penampilan menarik lewat dengan kendaraan yang mewah. Ibunya berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang ini.’ Lalu anaknya meninggalkan puting susu ibunya, memandang laki-laki pengendara itu dan berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya.’ Kemudian dia kembali kepada susunya dan meneruskan menyusu.” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah aku melihat Rasulullah sementara beliau menceritakan bagaimana anak itu menyusu dengan jari telunjuknya dimulutnya, maka beliau mengisapnya.” Nabi bersabda, “Lalu mereka melewati seorang hamba sahaya yang dipukuli oleh orang-orang. Mereka berkata kepadanya, ‘Kamu telah berzina dan mencuri.’ Sementara hamba sahaya itu menjawab, ‘Cukuplah Allah sebagai Penolongku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.’ Ibu itu berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya.’ Lalu si anak meninggalkan susunya dan melihat kepada hamba sahaya itu dan berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku seperti dia.”
Pada saat itulah terjadi perbincangan antara ibu dengan bayi yang disusuinya. Ibunya berkata, “Semoga lehermu sakit. Telah lewat seorang laki-laki dengan penampilan menarik dan aku berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku sepertinya,’ tapi kamu berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan diriku sepertinya.’ Lalu lewatlah seorang hamba sahaya wanita yang dipukuli dan mereka berkata kepadanya, ‘Kamu telah berzina dan mencuri.’ Lalu aku berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku sepertinya.’ Dan kamu berkata, ‘Ya Allah, jadikan diriku seperti dia.” Anaknya menjawab, “Laki-laki itu adalah laki-laki yang sombong, maka aku berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya’. Dan sesungguhnya wanita yang mereka tuduh berzina dan mencuri, sebenarnya dia tidak berzina dan mencuri. Maka aku berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya.”
Dalam hadis ini Rasulullah menyampaikan tentang tiga orang yang bisa berbicara semasa dalam buaian. Isa adalah yang pertama. Bayi Juraij adalah yang kedua, dan yang ketiga adalah bocah yang menyusu ibunya sambil duduk di persimpangan jalan. Dalam kondisi itu datanglah seorang pengendara dengan penampilan yang sangat bagus.Pakaian dan kendaraan yang ditungganginya menunjukkan bahwa dia adalah pemilik nikmat dan kekayaan. Dari penampilannya pula menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang muda, kuat, lagi sehat. Wanita ini mengaguminya, dan dia memohon kepada Allah supaya menjadikan anaknya seperti laki-laki itu. Anaknya meninggalkan susu ibunya dan berkata, “Ya Allah, jangan jadikan aku sepertinya.”Setelah itu dia meneruskan menyusu pada ibunya.
Rasulullah menceritakan kepada kita bagaimana anak itu menyusu. Beliau meletakkan jarinya yang mulia di mulutnya dan menghisapnya. Ini menunjukkan bahwa menyusunya bocah itu adalah menyusu yang sebenarnya dan Rasulullah tidak bermaksud pada arti yang majazi(kiasan).
Tidak lama berselang, sekelompok orang melewati wanita itu. Mereka menyeret dan memukuli seorang hamba sahaya. Mereka berkata kepadanya, “Kamu telah berzina dan mencuri.” Dan si hamba sahaya menjawab,”Cukuplah Allah sebagai Penolongku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” Maka wanita itu berdoa agar anaknya tidak seperti hamba sahaya tersebut. Bayi itu langsung meninggalkan susunya dan berdoa supaya dijadikan seperti dia.
Pada saat itulah terjadi perbincangan antara ibu dengan anaknya. Ibu itu bertanya kepada bayinya mengapa dia berdoa yang menyelisihi doanya. Maka si bayi itu memberitahu bahwa laki-laki berpenampilan menarik itu adalah seorang kafir yang durhaka lagi sombong. Adapun
hamba sahaya, dia adalah seorang wanita shalihah yang mereka tuduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.
PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Manusia terkadang meminta sesuatu yang justru merugikan dirinya dan berlari dari sesuatu yang baik baginya. Ibu ini memohon agar anaknya menjadi seperti laki-laki kafir lagi sombong, sementara dia tidak menyadari bahwa itu berarti mencelakakan anaknya. Wanita itu memohon agar anaknya tidak seperti wanita shalihah tersebut, padahal kebaikan menuntut seperti wanita itu dalam keshalihaan dan ketaqwaannya, walaupun dia dituduh telah melakukan sesuatu secara dusta dan palsu.
  2. Hendaknya para dai menggunakan sarana pembelajaran untuk menjelaskan, menerangkan dan memantapkan ilmu di dalam jiwa sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau meletakkan jarinya di mulutnya untuk menceritakan bagaimana anak itu menyusu dari ibunya. Hal ini banyak ditemukan di dalam hadis-hadis yang mulia. Rasulullah telah menjelaskan firman Allah, “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya.” (QS. Al-An’am: 153). Nabi membuat garis di atas pasir seraya bersabda, “Inilah jalan yang lurus.” Beliau juga meletakkan garis-garis di kanan kirinya dan berkata,”Inilah jalan-jalan yang di masing-masing jalan terdapat setan penyeru.”
  3. Allah menjadikan, di setiap zaman, ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran-Nya dan dengannya Dia diketahui. Muncul nilai-nilai yang dicintai oleh Allah dan nilai-nilai yang dibenci oleh Allah; di antaranya adalah ucapan bayi ini, ketidakrelaannya terhadap keadaan laki-laki yang sombong tersebut, dan kerelaannya terhadap dirinya agar bisa seperti hamba sahaya wanita itu.

TIGA HARI BERSAMA PENGHUNI SYURGA




Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik bercerita tentang kejadian bersama Rasulullah SAW.
Anas bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.’ Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang j
anggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat sandalnya pada tangan sebelah kiri.”
Esok harinya, Rasulullah SAW berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan muncullah laki-laki yang sama. Begitulah, nabi mengulang sampai tiga kali.
Ketika majlis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Ash ra. mencoba mengikuti seorang laki-laki yang disebut oleh nabi sebagai penghuni surga ini. Kemudian dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji pada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan pulang ke rumah menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu?”
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah ia di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan orang itu yang disebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama tiga hari itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.
Kata Abdullah, “Setelah tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku meremehkan amalannya, lalu aku berkata, ‘Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW berkata tentang dirimu sampai tiga kali. “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”
Lalu laki-laki itu berkata, “Yang aku amalkan tidak lebih dari yang kau saksikan.” Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, lelaki itu memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah pada mereka.”
Lalu Abdullah berkata, “Begini bersih hatimu dari perasaan jelek terhadap kaum Muslim, dan alangkah bersih hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tingkat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.”

CERPEN: CINTA SEJATI SEORANG PRAJURIT TNI




Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus.Dg tangannya yg lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya. Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya diatas pangkuan, dan satu
tangannya masih memegang tongkat.
Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna.Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun dilinkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya.
“Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis.
Hatinya protes,diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdoa dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali. Di antara frustrasi,depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan.
Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaray diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa.
Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dg sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.
Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya.
Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan.
”Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Yasmin.
“Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.”
Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri.
Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu,Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dg tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dengan tenang Burhan pergi ke tempat dinas.
tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta,tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yang tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.
Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dg mengendarai bus kotasendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata,
“Saya sungguh iri padamu”. Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya.
“Anda bicara pada saya?”
” Ya”, jawab sopir bus.
“Saya benar-benar iri padamu”. Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri?
“Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu.
“Kamu tahu,” jawab sopir bus,
“Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.
Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

LEBIH BAIK PUNYA SUAMI DALAM KENYATAAN DARIPADA PUNYA PANGERAN DALAM IMPIAN




Diantara realita yang dijumpai pada sebagian wanita yang terlambat menikah terutama dikota metropolitan, dikarenakan sebagian mereka terbuai oleh idealisme mimpi,
 padahal tidak sedikit dari mereka yang umurnya mendekati atau mencapai kepala tiga. Sebagian mereka ada yang berkata, mengomentari temannya yang jauh umurnya dibawahnya ketika ia hendak menikah dengan berkata : “ apa tidak ada pilihan yang lain?” mengometari pilihan calon suami temannya.
Padahal calonnya secara fisik termasuk orang yang Allah karuniakan fisik yang baik dan tidak sedikit yang bilang ganteng. Kalau dari sisi tanggung jawab, maka dia orang yang berusaha berpegang teguh pada agamanya dan orang yang bertanggung jawab. Adapun wanita tersebut tetap dalam mimpinya menanti pangeran dengan segala kreteria kesempuranaan daripada mempunyai suami dalam kenyataan walaupun umurnya telah mencapai 32 tahun.
Dan ada diantara mereka yang tidak menerima tawaran untuk proses sama seorang ikhwan sambil berkata : “ kreteria suamiku nanti yang tingginya diatas 170 cm” padahal dia sendiri tingginya jauh dibawah kriterianya disamping umurnya telah mencapai kepala tiga.
atau sebuah kisah yang diceritakan oleh orangnya sendiri. “ Walaupun usiaku mendekati 40 tahun tetapi saya tetap menginginkan agar suami kelak adalah seorang yang memilki kemuliaan, kemampuan materinya diatas pertengahan dan dia memiliki gelar yang tinggi. Tetapi sebenarnya saya setelah umur ini ketika saudara-saudara perempuanku mengunjungiku bersama para suami dan anak-anak mereka, saya merasakan kesedihan yang sangat dahsyat dan saya ingin seperti mereka, saya bisa mengunjungi kelurgaku dan bisa berpergian bersama suami dan anak-anakku.”
Atau kisah seorang wanita yang tetap memimpikan seorang pangeran daripada mempunyai seorang suami dalam kenyataan.
“ Karena saya adalah wanita yang beruntung maka pemberian Allah kepadaku tidaklah berhenti sebatas ini, tetapi Dia (Allah) menumbuhkan saya ditengah-tengah keluarga kaya dan bangsawan, dan Dia menambahiku dengan akal yang cerdas, akal yang menjadikanku mampu menyelesaikan studiku dikuliah kedokteran dengan cepat. Dan selama seperti ini keadaanku maka saya berhak untuk memilih suami yang pantas, orang yang memiliki keutamaan yang dia sukses dengan semua ini, kesatria, tinggi dibandingkan orang-orang lain yang ingin menikah, semakin hari semakin tinggi yang akan memuaskan duniaku. Dan telah membuatku takut ketika ibuku sering mengulang perkataannya yang merupakan pribahasa : “ Barangsiapa yang banyak pelamarnya maka dia akan gagal.” Tetapi saya tidak mau mengalah dan saya tidak perduli dengan bergugurannya hari-hari disekitarku, serta usiaku yang telah melewati batas yang diperbolehkan. Maka mudah-mudahan saya akan mendapatkan kesatria yang lain yaitu pangeran impianku yang wajahnya bermain-main didalam angan-anganku dan yang dia berhak mendaptakan diriku.”
Inilah diantara wanita-wanita yang tertipu dengan idealisme mimpi. Bukan berarti seseorang tidak boleh memilih atau mempunyai kriteria tertentu untuk pendamping hidupnya, selama tidak menyelisihi syar’i dan tidak berlebihan dan dengan melihat realita. Misalnya seseorang yang hidupnya sederhana, fisiknya dan tingginya pas-pasan ingin mendapatkan seorang jutawan yang ganteng bertubuh tinggi, walaupun banyak orang yang shaleh datang meminangnya lalu dia menolaknya…??.
Mungkin ada pertanyaan yang menggelitik hati kita, sendainya dia menemukan pria impiannya apakah pria itu mau dengannya??. Bagaimana ketika seandainya ia menemukan pangeran impiannya sedangkan umurnya telah menacapai kepala tiga, sedangkan pangeran yang bertubuh tinggi, kaya dan genteng itu mencari seorang pendamping yang berumur 20 tahun ???. Disamping seharusnya yang menjadi patokan seseorang memilih pendamping hidupnya adalah seorang yang shaleh setelah itu boleh bagi dia memiliki kriteria tertentu asal tidak berlebihan dan melihat reliata. Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhaiagama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakkan yang besar “ (HR. At Tirmidzi, Al Baihaqi dan ini lafadznya, dihasankan oleh syaikh Al Al Bani)
Hasan Al Basri pernah ditanya “ Pria manakah yang engkau suruh untuk aku menikahkannya dengan putriku ? ” Hasan Al Basri Rahimahullah menjawab : “ Nikahkanlah ia dengan pria yang beriman karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan bila ia tidak mencintainnya maka dia tidak akan mendzaliminya “.
Tidak mengapa seorang mempunyai kreteria tertentu selama tidak menyelisihi syar’i, akan tetapi ingat patokannya adalah agamanya. Jika baik agamanya lalu ia mempunyai kriteri ingin mencari suami yang ganteng atau pondokkan tidak mengapa. Kalau seandainya sebagian kriterianya yang sangat penting telah terpenuhi, setelah istiqarah dia merasa cenderung dengannya, lalu ada kriteria lain yang tidak terpenuhi pada diri seseorang yang datang mengkhitbahnya kenapa dia harus menolaknya?.
Misalnya seorang akhwat mencari ikhwan yang shaleh, ganteng dan pondokkan dan kalau bisa sudah mapan. Lalu ada seorang ikhwan yang mau mengkhitbahnya, seorang yang shaleh, pondokkan akan tetapi wajahnya biasa saja, tidak ganteng dan tidak juga jelek dan ia cenderung kepadanya setelah istikharah walaupun juga belum mapan, lalu kenapa dia tidak menerimanya dan mengalah dengan sebagian dari syarat-syaratnya atau kriterianya…!!! Kalau dia menginginkan seluruh kriteria kesempurnaan dia ada pada calonnya, hal ini sangatlah sulit dan jika seandainya ada, mungkin diapun mencari orang yang sepertinya, apakah saudari termasuk kriterianya, seorang yang sholehah, cantik, hafalan minimal 5 juz, cerdas, dari keturunan yang baik, kaya, minimal tinggi 160 cm dan kriteria kesempurnaan lainnya…??
Lalu kenapa harus tetap menanti pangeran dalam impian daripada suami dalam kenyataan.
Wahai saudariku…, tidak inginkah kalian segera menikah dengan laki-laki shaleh pilihan kalian, hidup menjadi tenang yang dengan itu kalian menyalurkan kebutuhan biologis dengan cara yang halal dan aman sehingga terhindar dari maksiat dan mempunyai keturunan yang shaleh, buah hati kalian sebagaimana saudari-saudari kalian yang telah menikah.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(Qs. Ar-Ruum : 21).
Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Wahai para pemuda barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah dikarenakan dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan dan barangsiapa tidak mampu menikah maka baginya untuk berpuasa hal itu sebagai tameng baginya “ ( HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu )
Tentu beda antara mempunyai seorang suami dalam kenyataan dari mempunyai pangeran dalam impian. Yang satu keberuntungan dan kebahagian dan yang satu ketertipuan dan kesengsaraan.
Oleh : Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah